Selamat datang di Kaka Vila....!

Ini adalah tempat saya merenung, dan mengabadikan apa yang dipikirkan, saya sebut dialog dengan diri. Sekaligus wadah untuk belajar menulis. Berharap suatu saat bisa menjadi nostalgia untuk dikisahkan kembali.

Sabtu, 23 Maret 2019

Indonesia adalah Kita Bukan Dia atau Mereka (Catatan Lepas)

Indonesia adalah Kita Bukan Dia atau Mereka (Catatan Lepas)

Indonesia adalah Kita Bukan Dia atau Mereka (Catatan Lepas)
Indonesia masih ada. ini adalah catatan yang bersifat permenungan.

Waktu saya tinggal di Papua saya sangat menikmati apa yang disebut toleransi. Bertetangga dengan teman - teman dari tanah Jawa membuat saya mengenal beragam karakter.

Karakter yang paling melekat adalah sikap toleransi yang dibina. Saat membangun Gereja teman-teman muslim berbondong membantu. Para ibu mengurus makanan, kaum bapa membantu teman-teman yang Nasrani.

Hal yang sama jika hari raya Idul Fitri, kami semua bergandeng tangan melancarkan perayaan itu.

Terlalu indah kehidupan beragama di sana.

Hal yang sama saya saksikan di Citangtu (Kuningan Jawa Barat), kerukunan beragama sangat terasa. Sebagai minoritas saya bangga melihat itu.

Demikian halnya dengan yang kusaksikan Masyarakat di Talahap Magelang. Masyarakat yang mendiami kaki Gunung Andong Salatiga itu sangat rukun.  Tentram sekali melihatnya.

Terakhir saya melihat Gereja Kristen Jawa, umat Katolik, dan saudara - saudari Muslim di Kulon Progo Yogja. Bagi mereka agama urusan pribadimu tetapi persaudaraan di atas segalanya. Kagum sekali.

Lantas dimulai dari Ahok jadi gubernur DKI yang namanya rukun entah kenapa saya merasa digoyang. Kafir dan pengelompokan mulai terjadi.

Sampai dengan pemilihan presiden 2019 mulai lagi pengkotakan atas nama agama terjadi. Ramainya pum di sosial media. Miris rasanya melihat itu karena itu bukan wajah Indonesia yang sebenarnya. Namun yang kusaksikan Rabu, 20 Maret 2019 di Jalan Gunung Sahari XI Jakarta Pusat sangat menentramkan hati.

Seorang ibu berjilbab (kelihatan seperti keturunan Arab), membantu dengan tulus oma Keturunan Cina menyeberangi Jalan. Bagi saya ini pemandangan yang menyejukan, sempat terpikir untuk memotret momen itu, tapi kuurungkan karena kerukunan beragama masih terjaga di akar rumput.

Kalau pun ada isu ini dan itu, bagi saya itu semua hanyalah kerjaan orang-orang yang tidak menginginkan Indonesia damai.

Di mana pun ibu berdua itu berada saat ini, saya masih percaya bahwa banyak orang baik di negeri ini yang sangat mencintai negaranya.

Kerukunan masih ada,
Toleransi masih ada,
Kebinekaan kita masih ada.

Indonesia adalah kita, bukan dia atau mereka. salam@
Baca juga:
  1. Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Refleksi di Tahun Politik.
  2. Kiai Mustofa Bisri Pemikirannya Patut Dijadikan Renungan Bersama


Laptop Rusak Aktifitas Jadi Terganggu

Laptop Rusak Aktifitas Jadi Terganggu

Laptop Rusak Aktifitas Jadi Terganggu
Laptop rusak, semua kegiatan jadi masalah. Semua data yang berhubungan dengan kelas 3 ada di dalamnya. Entah kenapa tidak terpikirkan untuk back up data-data tersebut.

Bersyukur bahwa kegiatan belajar mengajar di SMTK Bethel Jakarta diharuskan untuk mengirim lewat email sehingga jejak digital itu bisa dilacak kembali melalui informasi pengiriman.

Kendala lainnya adalah blogging. Ya aktifitas yang satu ini adalah kesibukan lain di luar keluarga dan jam mengajar.

Ini merupakan hobi baru yang sudah menjadi candu. Namun tidak bisa maksimal sebab saya sendiri tidak pandai menggunakan hp untuk blogging.

Pelajarannya adalah sedia payung sebelum hujan. Maksud saya selalu menyediakan alternatif lain apabila pilihan utama mengalami kendala tertentu.

Ah sudahlah maksimalkan apa yang ada, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah (nasehat untuk diri sendiri).

Berusaha mengatasi masalah adalah pilihan bijak yang harus dilakukan saat ini. @

Rabu, 20 Maret 2019

Mengenang Nulis. Id dan Ekskul Jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta

Mengenang Nulis. Id dan Ekskul Jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta

Sobat seandainya kalian sempat membaca postingan ini jangan kaget dengan isinya.


Maksud saya seperti ini, judul di atas sepertinya mengandung pembahasan yang keren dan informatif (menurut saya ya), padahal isinya mah bukan, saya hanya mau menyimpan beberapa foto kenangan saat masih mengajar ekskul jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta.

Ya dulu saya mengajar di SMA Kanaan Jakarta, saya sempat dipercaya oleh pihak sekolah untuk membina ekskul jurnalistik.

Sebenarnya saya merasa tidak pantas, tetapi pimpinan berkata, “ah pak Martin bisa maka saya pun memulai mengajar dari kekurangan saya”.

Berikut ini beberapa foto kegiatan ekskul jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta.
Mengenang Nulis. Id dan Ekskul Jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta
Kalau ini majalah sekolah yang dikelola oleh anak-anak Jurnalistik. Setiap edisi saya pastikan untuk membagi siapa liput kegiatan apa, intruksinya saya sampaikan lewat ketua redaksi
Kalau ini kegiatan sekolah, jadi setiap kegiatan sekolah anak-anak Jurnalistik turun lapangan untuk meliput, benar-benar kayak wartawan saja hehehehe
Selain itu, kami pun harus mengurus Mading sekolah. Ini bagian dari persiapan membuat mading sekolah

Kalau ini foto saat saya selesai mengajar ekskul jurnalistik) dan diliput oleh tim nulis.id 

Tim Jurnalistik
Saya banyak belajar dari mereka. 
Jika engkau ingin tahu remaja dengan lebih baik, tidak perlu membaca buku psikologi remaja, cukup hadir dan terlibat bersama remaja, pahami bahasa mereka, mengerti cara mereka berpikir, dan lihatlah hasilnya mereka sangat kreatif. Mereka sopan tetapi dengan gaya yang berbeda. Pahami mereka maka engakau akan mendapatkan ruang untuk mendidik.

Yups berkarya dari keterbatasan, tidak sempurna memang, tetapi mendingan berkarya dan membimbing daripada tidak sama sekali. Salam literasi.

Catatan Tak Tahu Arah, Jakarta, 20 Maret 2019

Catatan Tak Tahu Arah, Jakarta, 20 Maret 2019


Catatan Tak Tahu Arah, Jakarta, 20 Maret 2019
Mungkinkah ini karma
Atau kemalasan yang dipelihara
Entahlah saya pun tidak memahaminya dengan utuh.

Menyesalkah aku meninggalkan zona nyaman di SMA Kanaan Jakarta,
Atau mungkin ini ujian untuk mengukuhkan sebuah komitmen.
Sulit untuk saya jawab.

Tetapi hari ini dan di sini saya sedang bingung,
galau dan tak tahu arah.

Semantara hidup terus berjalan, dan
Saya adalah pemimpin untuk menghidupi keluarga kecilku.

Sedangkan kenyataannya sungguh amat miris, lelah, jujur sungguh amat lelah.
Sters iya…
Tetapi tidak mungkin saya berhenti untuk berharap
Karena ada kehidupan yang perlu saya hidupi.

Hanya berharap Tuhan buka jalan.
Dan memberi pencerahan untuk saya dan keluarga kecilku.
Help me god!

Jakarta, 20 Maret 2019

Sabtu, 16 Maret 2019

Ras Muhamad Regge Musik'ku

Ras Muhamad Regge Musik'ku

Ras Muhamad Regge Musik'ku
Its me, bukan Ras Muhamad kwkwk
Saya tidak tahu kenapa sampai tertarik dengan regge. Tetapi bagi saya regge musik membuat pening jadi hilang.
Alunan bassnya yang membuat kepala bergoyang, apalagi dengan dialek regge paling keren dari Ras Muhamad duta regge Indonesia lengkap sudah bahagia ini.


Ya man,


Anda pencinta regge? 

Langsung simak lirik regge paling asik berikut ini.


Ini adalah musik reggae dari Jamaika
yang kupersembahkan untuk kalian
semua dari yang sudah tua sampai yang muda
and now watch you know

bergerak

Jika kamu suka dengan musik ini
nyalakan api, nyalakan api


Dan kamu doyan dengan musik ini
nyalakan api, nyalakan api


Dan kamu bergoyang dengan musik ini
sesuka hati, sesuka hati


kau takkan lepas dengan musik ini
tak kan mati yang abadi

Ini lah musik dari Jamaika
yang ditenarkan Bob Marley


yang dikenal oleh semua bangsa
dan juga semua musisi


Kita doyan bergoyang bersama irama
yang dipanggil reggae
tapi bukan hanya Bob Marley saja
yang sajikan reggae

Ada yang bernama Siszla, Antony-B
Mereka bernyanyi dari Bobo Shanti
dan sang legenda cekep kela mela
genes brong geneses semua kusuka
dari yang
nge-dub doubble droop kenaga
sabarang dijaman mucuembi ebia
dan ada juga di tanah air ini reggae-man y
ang bernama
mas
Tony

Bobby bro, are tou ready now
Bobby broo, are you ready now
Bobby broo, are you ready now


kita bergerak dengan one love


Reggae musikku, reggae musikku
Reggae musik yang ku dengar terus, dan
Reggae musikku, reggae musikku
Reggae musik yang ku jalani terus, mari

Maju

She one nanananay

Maju
She one nananay

Maju
She ine nananay

Maju

Maju

Takkan ada progess jika tak ada perubahan di dalam pergerakan
normalysi

Irama membuatmu seakan di pantai
Hilangi resah dan semua rasa capai


Berdansa dan gembira yang tak akan usai
She whine, she wananay away nay nay


Irama membuatmu seakan di pantai
Hilangi resah dan semua rasa capai

Berdansa dan gembira yang tak akan usai

She whine, she wananay away nay nay
Reggae musik ini seperti dangdut

Irama masyarakat yang bikin aku
Terlena di dalam melodi lagu
dan tak kan pernah ku ragu

Bobby bro, are tou ready now
Bobby broo, are you ready now
Bobby broo, are you ready now
Kita bergerak dengan one love

Reggae musikku, reggae musikku

Reggae musik yang ku dengar terus, dan

Reggae musikku, reggae musikku

Reggae musik yang ku jalani terus, mari

Maju
She one nanananay

Maju
She one nananay

Maju
She ine nananay

Maju

Maju

Reggae musikku, reggae musikku
Reggae musik yang ku dengar terus, dan


Reggae musikku, reggae musikku
Reggae musik yang ku jalani terus, mari

Maju
She one nanananay

Maju
She one nananay

Maju
she ine nananay

Maju

Maju

Dengarlah alunan gitar sang Brather dari gangstarasta

One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.
One love, one love, one love.

Suara emasnya duta regge Indonesia ini bisa lihat di SINI.


Mari bergerak dengan one love

Ya man…@ regge musik;ku

Jumat, 15 Maret 2019

Selembar Foto Dapat Menceritakan Banyak Kisah (1)

Selembar Foto Dapat Menceritakan Banyak Kisah (1)

Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah. Oleh karena itu, pada postingan ini saya ingin mengumpulkan beberapa foto untuk dikenang kembali. 

Berharap suatu saat bisa diceritakan kembali kepada anak dan cucu bahwa saya pernah ada di sini untuk mereka.
Masalah yang timbul di kemudian hari ialah loding blog menjadi berat, tak apalah asal dokumentasi diri tersimpan di dalamnya.


Galeriku:
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto di Perbatasan RI-PNG
Foto di atas waktu liputan tentang penembakan oleh okunum tidak dikenal di kampung Woso (Perbatasan RI-PNG) dan pengibaran bendera raksasa di perbatasan.
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto waktu di Fef Papua Barat
Ini adalah foto saat bertugas di Fef Papua Barat. Foto diambil di Sausopor (ibu kota Kabupaten Tambrauw Papua Barat), sebelum kami berangkat menuju Fef Papua Barat (tempat saya bertugas).

Jika sobat ingin tahu pengalaman saya selama di Fef Papua Barat, baca Rekan Guru Sebelum Bertugas di Fef Papua Barat siapkan 6 Hal Ini 
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto dengan mama-mama Papua di Kampung Wayo
Ini adalah foto saat saya bertugas di Kampung Wayo Papua Barat. 

Foto ini diambil saat masyarakat setempat mengetahui bahwa saya akan pindah ke Jakarta, sehingga mereka masak untuk makan bersama (#Perpisahan). 
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto kegiatan pramuka di gunung pancar, Bogor Jawa Barat
Ini adalah foto kegiatan pramuka di Gunung Pancar Cibubur  Jawa Barat.

Baca  

Kaka Guru Bersama Clarista Andriyani Siswi SMA Kanaan Jakarta, Semua Karena Doa

Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto dengan siswa-siswi ekskul jurnalistik
Foto ini saat saya selesai mengajar ekskul Jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta.
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Kejutan saat ulang tahun dari siswa
Foto saat mendapatkan kejutan dari siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta saat ulang tahun.

Baca:

Terima Kasih Anak-Anak Atas Ucapan Selamat Ulang Tahunnya

Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto di Kali jodoh Jakarta
Foto ini saat jalan-jalan ke Kali Jodo Jakarta Utara. 


Baca Dari Museum Bahari ke Kali Jodoh, Lihat Sarang Penyamun Jadi Tempat Rekreasi.
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto dengan anak-anak Papua di  Kampung Wayo Papua Barat
Foto waktu di Fef Papua Barat, bersama anak-anak Kampung Wayo yang ceriah (saat bertugas di Papua)
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto saat main fustsal bersama siswa-siswi  di SMA Kanaan Jakarta
Hari Sabtu sempatkan diri untuk main futsal bersama anak-anak "spesial". 

Untuk apa si? 


Jawabannya baca Cara membuat guru bahagia dan murid senang belajar Bahasa Indonesia di sekolah. 
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto saat mengajar di SMTK Bethel Jakarta
Foto saat mengajar di SMTK Bethel Jakarta, Baca Catatan guru kampung yang mencari kerja di Jakarta, sampai menemukan bahagia di sekolah ini.
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto waktu di SMP Negeri 1 Fef Papua Barat
Foto waktu di Fef Papua Barat, foto ini diambil saat guru dan masyarakat menyambut kedatangan saya di sekolah tersebut. 


Luar biasa kagum dan bangga dengan apresiasinya.
Selembar foto dapat menceritakan banyak kisah Martin Karakabu selama di Papua, Jakarta, dan Pulau Jawa
Foto saya bersama istri di Bogor

Kamis, 14 Maret 2019

Viomagz Template Blog Paling Mudah untuk Memasang Iklan di Awal, Tengah, dan Akhir Postingan

Viomagz Template Blog Paling Mudah untuk Memasang Iklan di Awal, Tengah, dan Akhir Postingan

Bagi blogger master memasang iklan dalam HTML blog itu sudah biasa, tetapi bagi saya itu tantangan yang luar biasa.


Jika salah satu pembaca tulisan ini adalah blogger pemula seperti saya; yang sedang mempelajari bagaimana cara memasang iklan google adsense di awal, tengah, dan akhir postingan maka jangan panik, templete viomagz buatan mas Sugeng solusi buat anda.

Lihat gambar berikut:
Viomagz Template Blog Paling Mudah untuk Memasang Iklan di Awal, Tengah, dan Akhir Postingan
Pertama-tama login blog sobat, masuk tata letak.
Pastikan sobat ingin meletakan iklan di awal, tengah, atau akhir.
Setelah itu klik edit, langkah selanjutnya letakan kode iklan yang sudah disiapkan dan terakhir simpan.

Hasilnya sebagai berikut.
Viomagz Template Blog Paling Mudah untuk Memasang Iklan di Awal, Tengah, dan Akhir Postingan
Jika sobat ingin memasang iklan di bawah artikel terkait, tutorialnya sudah disiapkan dengan sangat lengkap oleh mas Sugeng sang pembuat template viomagz.

Selanjutnya;

1.   Jika sobat tertarik dengan template viomagz yang saya maksudkan, silakan lihat di sini (menuju blog mas Sugeng).

2.   Bisa juga menuju kaka guru (blog saya yang lain) untuk melihat demo dari tulisan di atas. Silakan klik di sini (kalau mau).

Demikian penjelasan singkat tentang cara memasang iklan di awal, tengah, dan akhir postingan pada template viomagz buatan mas Sugeng.

Jangan lupa baca juga, 

Takis Theme Templete Keren Buatan Bung Frangki.

Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu ataukah Memang Tidak Mau Tahu?

Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu ataukah Memang Tidak Mau Tahu?

Jakarta ibu kota negara, katanya sebagai barometernya Indonesia; jika Jakarta sebagai barmoternya Indonesia maka tapa laku manusianya pun seharusnyanya menjadi parameter manusia ibu kota yang moderen dan rasional. 
Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu ataukah Memang Tidak Mau Tahu?
Gambar ilustrasi, sumber merdeka.com 
Namun tidak demikian dengan pengalaman pengguna jalan yang sering saya jumpai.

Berikut ini pengalaman lawas yang saya  alami di Jakarta.  sebenarnya hal seperti ini sering saya alami di Jakarta, namun baru kali ini sempat membagikannya kepada pembaca sekalian. 

Ruas jalan baru sunter, Jakarta utara. Sering saya lewati menuju tempat kerja. Setiap pagi cukup ramai dengan anak sekolah, pedagang, maupun pekerja lain yang bepergian menuju tempat kerja masing-masing. Termasuk hiruk pikuk kendaraan bermotor yang melawan arah sesukanya.

Situasi seperti ini maka kewaspdaan tingkat tinggi menjadi keharusan bagi siapapun.

Jumat, 16 November 2017.  Sekitar pukul 06.00 WIB situasi yang tidak saya harapkan terjadi.

Sebuah motor matic yang dikendari oleh ibu - ibu keluar dari arah gang menuju jalan utama (jalan yang saya lalu saat itu). 

Beberapa menit kemudian, bunyi prakkkkk.

Keseimbangan saya jadi tidak stabil dan akhirnya jatuh 'memeluk aspal'. 

Apa yang terjadi?.

Seorang ibu yang terburu buru mengantar anaknya ke sekolah menabrak motor saya.

“Woii bang, hati hati dong...!” kata ibu itu setelah menabrak motor saya. Sambil meringis kesakitan, saya coba bangun dan bertanya kepada si ibu yang pemberani itu,
“Salah saya apa bu?”.
Tidak ada jawaban, si ibu itu kemudian berlalu. 

“Ah sudalah, kalau berurusan sama ibu-ibu tidak akan selesai urusan seperti ini, yang ada saya emosi”, pikirku saat itu, toh motor saya baik-baik saja.
Sampai di sini saya berpikir, apakah suatu kesalahan bisa menjadi benar hanya karena suara yang paling besar?
sobat pembaca mungkin juga pernah mengalami seperti saya atau pernah melakukan seperti ibu yang saya ceritakan di atas?
Jika itu dianggap wajar dengan dalil welcome to Jakarta, maka silakan memupuk kebobrokan yang demikian untuk anda sendiri tetapi jangan biarkan orang lain terluka karena ulahmu.

Mari berpikir!

Pertama, nyawa tidak pernah bisa dibeli dengan sejumlah uang karena nyawa bukan seperti motor yang bisa dikreditkan. Jadi unsur kehati-hatian dari pengendara harus dimiliki. 

Kedua, sabar adalah sebuah kata yang harus dipraktikan oleh setiap pengendara di kota-kota besar yang tingkat kemacetan terus bertambah setiap harinya. 

Ketiga, berani mengendari kendaraan bermotor harus tahu aturan lalu lintas. 
Jangan sengaja tidak mau tahu yang penting saya bisa lewat, persetan dengan orang lain.  

Bidin Putra Betawi Berjuang di Tanah Anarki

Bidin Putra Betawi Berjuang di Tanah Anarki

Bidin Putra Betawi Berjuang di Tanah Anarki
Bidin bersama istri tercinta
Dalam setiap perjalanan selalu ada kisah, dan dalam setiap kisah selalu mengahdirkan decak kagum. Sekiranya itulah kesanku pada sosok yang satu ini. Namanya Baharudin, familiarnya dipanggil Bidin, putra Betawi asli. Dia adalah pemandu awal bagiku, saat seorang anak kampung macam saya memutuskan untuk menetap di ibu kota Jakarta. Jujur saat pilihan itu dibuat bagiku adalah langkah awal yang cukup nekat. Mengapa, pertama meninggalkan zona nyaman dengan gaji yang lumayan di tanah Papua. 

Secara manusiawi ini adalah hal yang cukup sulit. Namun karena cinta memanggil, kuputuskan untuk mengingikuti kata hati meski jalannya terjal untuk dilalui oleh orang daerah seperti saya.

Berkat Bidin, sosok yang sederhana perlahan namun pasti “Jakarta yang kejam”, kutakluki meski bertati-tatih. Ayah 3 orang anak ini memulai mengenalkanku dengan medan Jakarta dan sekitarnya di awal tahun 2013.

Gitaris kondang yang belajar otodidak ini, mulai mengenalkanku dengan situasi Jakarta dengan medan terjauh dan terluar kota Jakarta. Tangerang namanya. Saat itu kami mengantar kaca di daerah tersebut. Situasi kemacetan ibu kota kucoba biasakan dalam perjalananku bersama saudaraku itu. Tidak lupa penyuka musik ini menjelaskan rute dan nama-nama jalan padaku. “wah ini suatu bekal awal yang baik”. Pikirku saat itu.
Apa kesan mendalam dari perjalanan itu?.
Jika yang ditanya adalah kesan maka bukan Jakarta dengan gedung bertingkatnya yang menjadi istimewa, melainkan kesabaran seorang Bidinlah yang membuatku termotivasi.

Mengapa demikian?

Pekerjaan yang dilakoni suami dari Lili Apriani ini membutuhkan tingkat kestabilan emosi (baca:kesabaran) yang harus terus dijaga, sebab jika tidak nyawa menjadi taruhan. Memang setiap pekerjaan penuh resiko namun pilihan yang dijalani bidin menurut saya cukup beresiko.

Mengantarkan kepingan kaca setebal sehelai rambut, itu cukup ekstrim bagiku. Mulai menaikan dan menurunkan, semuanya sangat beresiko...ribet pokoknya (ribet, bahasa prokem Betawi yang merujuk pada tingkat kesulitan tertentu). Sedangkan kesejatarean minim dan jaminan yang nyaris tidak ada. 

Sunggu ironis putra Betawi berjuang di tanah leluhurnya sendiri. Itulah perjuangan hidup putra Betawi dalam menafkahi keluarga yang kusaksikan saat itu.

Perjalanan selanjutnya kucoba membiasakan diri dengan keanarkian ibu kota*. Penuh perjuangan memang, hingga di penghujung lelah dan sisa-sisa semangat kuterima panggilan telepon seluler nokia jadul yang kupunyai. Suara seberang mengatakan, “bapak bisa ke SMA Kanaan Jakarta sekarang untuk melalukan sesi wawancara?”. 
Wah Puji Tuhan, meski belum pasti, sedikit kabar mencerahkan ini membangkitkan kembali semangatku yang nyaris padam.

Langkah selanjutnya, dengan sedikit kebingungan kucoba memulai langkah menuju SMA Kanaan Jakarta.

Mengapa bingung, karena saya tidak tahu letak SMA Kanaan Jakarta itu di mana. Ko bisa, ya ialah, orang yang mengantar lamaran isteri saya, heheh...’. Mengapa isterinya tidak mengantar?. Hari itu isteri saya kerja. Pusing kan?, 
...”ah tidak biasa aja. Kalau sobat sekalian orang baru dan perantau, awalnya cukup sulit, tetapi jangan menyerah SELALU ADA JALAN BAGI YANG MAU BERUSAHA.

Perlahan namun pasti, kucoba ingat kembali nama jalan, rute dan lain sebagainya yang dijelaskan oleh saudaraku Bidin. Singkat cerita sampai juga saya di SMA Kanaan Jakarta hari itu. Setelah melewati semua sesi yang cukup melelahkan akhirnya saya diterima sebagai guru di SMA Kanaan Jakarta, tempat saya mengajar hingga saat ini.

Kurang lebih setahun berkarya, lelah mendera, beda budaya, beda karakter, gaya komunikasi, dan sejuta penyesuain di tempat yang baru buatku lelah. 

Hingga suatu hari pemandu jalan hidup di ibu kota itu datang padaku dan berkata, “om ada cenel kah, saya sepertinya mau keluar dari Berkah”. Wah itu sulit dan saya tidak bisa membantu apa-apa karena saya tidak tahu dengan cara apa bisa membantu orang yang telah membantuku itu.

Setiap hari kusaksikan putra Betawi dengan pendidikan seadanya itu bertarung di tanah anarki tempat leluhurnya sendiri. Akhirnya, perjuangan yang tidak kenal lelah itu membuahkan hasil, musisi otodidak itu mendapatkan pekerjaan.

Sebuah pemikiran klasik saat itu muncul, Martin engkau itu seorang perantau,bersyukurlah dengan apa yang engkau punyai sebab mencari kerja di Jakarta itu gampang-gampang sulit. Akhirnya kuputuskan, bertahan, berjuang, dan terus berkarya dengan apa yang saya bisa di SMA Kanaan Jakarta. Sampai kapan?, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Pembaca terkasih, dari secuil kisahku bersama putra Betawi ini; sekiranya ada dua hal yang bisa kita refleksikan kembali. Pertama soal bertahan hidup. Kedua soal belajar dari hidup.

Bertahan Hidup

Jika ada yang mengatakan hidup itu harus dinikmati, secangkir kopi, sebatang rokok, beraso di depan teras, sambil mendengarkan siulan burung dalam sangkar, bagiku ini orang malas dan tidak bertanggung jawab.

Bolehkan kalau beda pendapat gan?, (Silahkan tulis di kolom komentar, jika pendapatnya beda). Jika itu dilakukan untuk rehat sejenak, sembari beraso bersama keluarga yang ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Itu wajar. 
Tetapi kalau setiap hari mah, apa kata dunia, hehehhee....”

Bagi anak kampung dan perantau macam saya, hidup itu adalah suatu perjuangan yang tidak pernah berhenti selama kita masih bernafas. 

Sederhana saja, untuk bertahan hidup anda butuh makan, untuk makan anda butuh duit, untuk dapat duit anda harus kerja. Supaya dapat kerja, apalagi di Jakarta harus butuh perjuangan karena di Jakarta tidak ada yang gratis. 
Kencing saja bayar, orang mati saja butuh duit. Kira-kira seperti itulah konsep saya tentang bertahan hidup.


Belajar dari Hidup

Hidup itu ibarat sebuah buku yang selalu mengajari kita arti berjuang dari orang di sekitar. Soal kesabaran dan lain sebagainya. 

Jika diantara sidang pembaca yang tidak suka membaca buku pskologi maupun buku motivasi yang super tebal, rekomendasi saya, amatilah orang-orang di sekitarmu. Bagimana perjuangan seorang tukang ikan dalam mencari nafkah, atau suka duka seorang tukang ojek, di sana ada pelajaran hidup yang bisa kita kita ambil maknanya. Itulah maksud saya tentang belajar dari hidup.

***