Bisot Berbagi Kasih di NTT: Rugi kalau Tidak Berkunjung


Bisot Berbagi kasih di NTT: Rugi kalau tidak berkunjung
Tulisan yang diberi judul bisot berbagi kasih di NTT; berisi apresiasi, kritikan, dan kebingungan penulis tentang sebuah tanya, ‘apa yang diharapakan dari NTT?’.

Kekayaan alamnya kah....?; Jika kekayaan alam yang menjadi parameternya maka itu kurang tepat. NTT tidak sekaya alam Papua atau kalimantan. Tetapi soal pariwisata kita bisa berjaya.
1.     Abadinya danau kelimutu dalam uang kertas lima ribu rupiah (uang zaman dulu)
2.     Tersohornya pulau kamodo di mata dunia.
3.     Eksotiknya kain tenun NTT.
4.     Indahnya pantai waiara di Mof (Maumere of Flores).
5.     Mendunianya lagu Gemu Famire karya nong Frangko. Semua itu orang NTT yang punya.

Pertanyaanya bagaimana mengelola itu semua sehingga bisa menghasilkan uang untuk masyarakat lokal? Jawabannya sedang dilaukan oleh bisot.

Apa itu bisot?

Bisot adalah sebuah blog personal yang dikelola oleh sebuah nama yang tidak terukir dalam aksara. Namun karyanya nyata untuk membangun NTT. Jadi kita sepakat saja menyebutnya Bisot. Nama yang saya ‘curi’ dari blognya sahabat Tuteh Pharmantara.

Jadi Bisot adalah admin blog www.bisotisme.com. Lahir di Bekasi Jawa Barat, mengenyam pendidikan formal di ibu kota. Bernadikan darah Sulawesi. Saat ini berdomisili di Bekasi, dan katanya berkarya sebagai buruh online. Selengkapnya anda bisa berkunjung ke www.bisotisme.com/p/tentang_06.html

Apa kontribusinya untuk NTT?
Bisot Berbagi kasih di NTT: Rugi kalau tidak berkunjung
Pertanyaan yang cerdas.

Ini jawabannya, ternyata beliau adalah salah satu mentor pada kelas blogger NTT. Banyak ilmu yang bermanfaat beliau bagikan kepada siapapun yang mengikuti kelas blogger NTT.

Lantas mengapa saya menulis postingan ini, jawabannya pertama apresiasi, kedua ingin menyampaikan bahwa orang ini hebat.

Di saat yang lain “terik” saya sudah bantu 500 juta buat Joni si anak NTT. Lantas berita heboh di mana-mana. Ada juga yang bantu korban gempa di lombok, kemudian ‘heboh’ di instagram “kami bantu korban gempa di Lombok”.

“Ente iklas memberi atau mau pamer diri”, mau terkenal silahkan tetapi gayamu tengil.

Tengok pak Bisot dalam senyap beliau memberi bantuan buku, dalam senyap pula ia mengajari pemuda-pemudi NTT tentang blog”.

Bukti dari kerendahan dan sikap tidak pamer diri anda bisa lihat via halaman about me dalam blognya. Tidak ada hal istimewa tentang ‘akuan’ yang ditulis di sana.

Mungkin prespektif ini hadir karena diilhami oleh pemikiran Quraish Shihab yang saya kagumi itu. Saya pun tidak tahu; tetapi ini nyata.

Saat saya masuk dalam grup whatsaap kelas blogger NTT beliau menyambutku dengan kata, “Pak Martin di sini kita sama-sama belajar”.  Padahal beliau master (suhu), tetapi menyapa saya yang newbie ini dengan sebutan, “kita sama-sama belajar”.

Ini bukti dari kerendahan hati. Sekaligus mempertegas semacam tagline yang dibuat dalam blog pribadinya, ‘menulis untuk belajar dan belajar untuk menulis”
Bagi orang yang gagal paham tentang pernayataan ini, dia akan so tahu, tetapi jika memahami secara reflektif hanya ada satu kata kagum.

Kesimpulannya:


1.     Kasih itu hanya di atas mimbar dan di dalam greja, tetapi kasih sejati ialah memberi tanpa pamrih. Semangatnya ialah mereka bahagia jika melihat orang lain sukses dan bahagia. Itulah yang dilakukan pak Bisot, jadi rugi jika tidak mengunjungi blognya dan ‘mencuri’ ilmu dari blogger hebat itu.

Ingat!! kata mencuri bermakna mempelajari apa yang ditulis dalam blog tersebut bukan kopi paste apa yang ditulis.

2.     Berdomisili di Jakarta tetapi membangun NTT lewat kelas blogger NTT, apa namanya kalau bukan peduli sebutannya?.

Jika ada unsur lain itu manusiawi sekali, tetapi semangat seperti inilah yang harus ditulis. Atas dasar itulah maka hadir tulisan tidak jelas yang saya beri judul Bisot Berbagi Kasih di NTT: Rugi kalau Tidak Berkunjung.


Jakarta, 7 September 2018

Martin Karakabu

Guru Kampung yang sedang belajar agar tidak kampungan. Salam damai untuk semuanya

  Baca juga Artikel Terkait dengan postingan ini
Bisot Berbagi Kasih di NTT: Rugi kalau Tidak Berkunjung

8 Responses to "Bisot Berbagi Kasih di NTT: Rugi kalau Tidak Berkunjung"

  1. Bisot ini diibaratkan tanaman padi yang semakin berisi, semakin menunduk. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hati. Semoga semangat nya dalam membangun NTT, bisa menginspirasi semua kalangan ya pak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo mas Hendra terim akasih sudah berkunjung ke blog saya yang ini. benar mas, belau orang yang sangat bersahaja. Benar kata pepatah semakin berisi semakin merunduk. Saya kagum ama belau

      Hapus
    2. Semakin banyak ilmu semakin banyak pula kita berbagi kepada orang lain, semoga ilmunya bisa dibagikan lagi kepada orang lain supaya orang lain juga bisa merasakan ilmu yang diberikan beliau...

      Hapus
    3. Benar bangat mas Andrie Kristianto, sangat setuju, bukankah ilmu yang bermanfaat harus dibagikan sebelum kita kembali kepadanya?

      Mungkin pemahaman beliau di atas (pak Bisot) seperti itu. Terima kasih banyak mas atas kunjungannya. Saya sangat senang atas kunjungan dari mas Andrie. Sekali lagi terima kasih banyak dan salam sukses.

      Hapus
  2. Halo, selamat pagi.
    Ternyata blog Kaka Vila ini milik mas Martin juga, ya ...
    Keren banget punya blog banyak 👍

    Aku dukung Bisot agar masyarakat disana semakin maju dan kepariwisataannya semakin mendunia.
    Jujur aku kesengsem berat sama kain tenunnya, juga pernak-perniknya.

    BalasHapus
  3. Hallo selamat pagi juga mas Himawan, terima kasih yo sudah berkunjung
    hehehe iya mas..

    iya mas Pak Bisot emang the best..
    soal kain tenun, mas Himawan mau...?
    Kasih alamat saya kirimin satu, Kalau mau mas..

    BalasHapus
  4. Kasih: rela berkorban dan tidak menyombongkan diri.

    BalasHapus
  5. Terima kasih Pak Martin :) Terlalu wah ini mah, salam kenal yah semoga ada yang bisa kita kerjakan dan bermanfaat

    BalasHapus

Anda Sopan Saya pun Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel