Perjalanan Saya Pertama Kali Ke Papua: Kesannya Negatif


Menjadi perintis selalu tidak muda bagi siapapun, tetapi proses dan waktu, selalu memberi kesan yang terbalik bagi siapapun yang berani menjalani dengan iklas Martin Karakabu

Perjalanan Saya Pertama Kali Ke Papua: Kesannya Negatif
Dokumentasi pribadi
Martin kecil tiba di Papua, suatu tempat yang jauh dari tanah kelahiranya di Detunglikong, Flores NTT. Bandara sentani di Jayapura Papua, tempat pertama kali saya menginjakan kaki di propinsi yang berada di bagian paling timur Indonesia itu.

Takut dan heran itulah kesan pertama yang kudapati saat itu, takut karena pesawat yang membawa saya dan rombongan transmigrasi itu menyentuh landasan pesawat dengan cara yang ekstrim.

Prakkk, uuusss, kikkkkkkkkk, sunggu sangat menakutkan.

Mungkin baru pertama kali naik pesawat di usia kurang lebih 5 tahun jadi kesan kampungan terekam jelas saat itu.

Heran karena saudara-saudari di Papua rambutnya lebih kriting, lebih hitam dan lebih seram (nampaknya) daripada orang-orang yang pernah saya jumpai.

Sekali lagi itulah yang terekam saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi cenderawasih. Saat saya berusia 5 tahun.

Usai menginap beberapa hari di kantor transmigrasi (depan pos tentara 751) Sentani Jayapura Papua. Selanjutnya rombangan dibawah menuju lokasi transmigrasi, SP V distrik Kaureh, Jayapura Papua.

Perjalanan yang diawali mengitari danau sentani sekitar 2 jam itu sangat melelahkan sampai di Tajah lereh (nama lain dari SP V).

Melewati perurumahan yang nampak jauh dari kata ramai, kemudian menelusuri hutan belantara yang masih hijau, akhirnya sekitar pukul 03.00 WIT kami pun tiba di tempat tujuan.

Sajian pertama yang kulihat dihari pertama adalah hutan di sekeliling rumah transmigrasi yang serba seadaanya itu. Namun, bukan bapakku jika tidak kreatif, bukan promosi tetapi benar.

Menurut saya beliau sangat kreatif. Perlahan-lahan tempat yang mulanya hutan belantara itu disulap menjadi rumah yang cukup nyaman di tahun pertama, saat itu usiaku sekitar 6 tahun.

Apa makna dari tulisan tak bertepi ini?

Mari kita lihat kembali ke belakang bertajuk refleksi berikut ini.

Refleksi

1.   Menjadi perintis selalu tidak muda bagi siapapun, tetapi dengan proses dan berjalanannya waktu, percayalah akan memberikan kita kesan yang berbeda tetang hidup, pengalaman, maupun perjumpaan dengan seseorang atau suatu komunitas tertentu. Bahkan bisa jadi berbeda dari pandangan awal kita tentang sesuatunya. Termasuk cara saya ‘melihat Papua’. Awal dan akhir (alfa dan omega), sangat berbeda.

Bagian ini akan saya ulas pada postingan yang berbeda.

2.   Jangan melihat segala sesuatu dari luarnya saja, pelajari dan pahami lebih dalam maka engkau akan menemukan jawaban yang mungkin saja berbeda dari kesan awal yang didapat. 

Tambahan

1.   “Catatan tanpa titik tentang makna berjalan bagi seorang perantau, tulislah kisahmu. Setiap kisah mengandung nilai untuk diceritakan kembali kepada anak dan cucu kelak”.

2.   Singkat, termasuk kategori tidak jelas, maafkan saya karena ini hanyalah catatan perjalanan seorang anak kampung saja. Salam damai

Jakarta, 2018-09-09 di tengah kemacetan kota tua

Martin Karakabu - Anak kampung

Artikel Terkait postingan ini: 

Cerita Martin Karakabu di Detunglikong: Kilas Balik

Terimakasih sudah membaca Perjalanan Saya Pertama Kali Ke Papua: Kesannya Negatif . Silakan dibagikan kepada yang lain...!

About Kaka Vila

 

Perjalanan, Pemikiran, dan Refleksi Anak Kampung. -Kaka Vila-  

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar

Betul sekali dan sependapat, mas.
Jika melihat 'buku dari covernya' atau don't judge a book by it's cover.
Belum tentu, karakter wajah seseorang sama persis seperti karakter kepribadian sebenarnya.

Mas Martin beruntung sekali udah berkesempatan tinggal dan mengenal banyak penduduk Papua.
Papua Wamena itu salah satu lokasi yang sangat ingin aku datangi dan aku punya satu kaul jika suatu saat nanti benar kesampaian datang kesana.

Mas di wamena dingin bangat euu, Bandung dan Gunung Andong dinginnya tidak seberapa. Saya pernah pinsan di tengah-tengah puncak Jaya Wamena. Tidak kuat dinginnya, tetapi jika suatu saat mas Himawan berkesempatan ke sana saran saya bawah jeket tebal. Rokok yang banyak, kopi dan gula, harus banyak, setelah itu sirih pinang? juga harus banyak, jika itu sudah dibawah 80 aman.

mengapanya nanti lihat dan alami sendiri. hehehe. makasih banyak mas Himawan sudah berkunjung, salam dan semoga selalu sukses. tetap semangat untuk mewartakan Indahnya Indonesia. salam

Sekarang menurut berita Papua lebih maju pembangunan akses jalan sepanjang ribuan kilometer ya, saya ke Papua ingin mendaki ke Puncak Jaya pegunungan Jayawijaya.

Terima kasih mas muda, beritanya si seperti itu mas kwkwk.Selanjutnya saya tidak bisa bilang benar atau tidak, hehehe..takut dibilang politik karena ini musim kampanye kwkwkw,

Ah mas Muda saya pernah naik sampai di tengah, atau jangan bilang tengah de, seperempat saja, uda menggigil mas. Dingin bangat, ada saljunya si kwkwk.

Boleh tu mas kalau minat saya ada chanel di sana kwkkw, sekalian promosi e.. salam terima kasih sudah berkunjung mas muda..

Aku juga pernah dengar kalau satu-satunya lokasi di Indonesia yang ada saljunya yaitu di puncak Jaya Wanena.
Salah satu alasan itulah yang bikin aku pengin banget kesana,mas.
Selain .... , melihat langsung kebudayaan dan penduduk disana.
Sampai-sampai aku punya kaul, loh ... kalau suatu saat nanti benar kesampaian ke Wamena Papua aku mau pakai titik-titik [sensor biar ngga ngakak bacanya 😂] buat bikin dokumentasi foto dan video.
Itu pasti keren jadinya 👍

Astaga, mas Martin ternyata pernah pingsan gara-gara kedinginan di puncak gunung Jaya Wamena.
Kebayang dinginnya fmdan tipisnya lapisan oksigen disana ...

Kalo udh dari umur 5 thn jadi mahir bahasa Sentani ya pak Guru Martin?

asik nih usia 5 tahun sudah bisa naik pesawat, lha aku malah blm pernah naik peswat. kalo lihat malah sudah. uhu uhu.

mainnya jauh bangat sampe ke papua. katanya pantai di sana bagus2 ya?

Sudah menginjakkan kaki kaka di papua dengan umur 5 tahun, aku malah pengen bangat kesana, tapi biayanya mahal parah..

Kalo urusannya menyerempet politik saya juga nggak mau komen hehehe...

hehhee mas Aris, ini menarik Politik, saya setuju dan suka pendapatnya mas Aris ini, tetapi menurut saya seperti ini saat yang salah didiamkan maka lama-lama menjadi kebiasaaan (politik maksud saya), jadi kita harus bersuara. tapi juga harus sabar kalau tidak emosi dan jadi ribut, saya pernah mengalami itu, jadi saat mas Aris memutuskan untuk tidak terlibat saya pikir baik juga.. pilihan bebas yang harus dihargai... boleh...

Tidak mahir mas Aris, tahunya hanya woi dan moy doang, sama kayak bahasa Inggris tahunya Yes dan No doang, Bahasa Indonesia pun masih tidak jelas ne mas, ya begitulah saya, tapi proses dan terus belajar saya coba lakukan mas... salam

Hahaaha, main jauh karena situasi dan kondisi mas Oki, kalau pantai iya, zaman saya SD bersih dan indah sekarang ah no komen de kwkwk, terima kasih mas Oki sudah mampir.. salam hangat...

Ayolah mas Idris sekali-kali ke sanalah kwkwkwk. biar jiwa petualangannya semakin lengkap kwkwk...

salam, terima kasih atas kunjungannya mas...

Berapa lama tinggal di Papua?
Pengalaman yang menarik nih bisa sempat menetap di Papua.
Kata teman-teman yang pernah di Papua, daerah pegunungannya sangat dingin. Pantas sampai pingsan. Hihi.
Dulu sempat ingin tugas sementara di Papua, tapi tak dapat ijin ortu. Hehehe.

Oh mbak Qudsi, saya di Papua 27 tahun. Dari Flores usia 2 tahun. Baru sekitar lima tahun di Jakarta. Usia saya 34, jadi sebagian besar waktu saya ada di tanah Papua.

Benar di daerah pegunungan sangat dingin mbak.
Kalau mbak tugas di Papua (khususnya di pedalaman ya maksud saya), apalagi bujang dan bisa hemat saya percaya bisa beli rumah sendiri,... memang gajinya sama tetapi tunjangan itu yang kencang hehehe...

Terima kasih atas kunjungannya mbak Qudsi, salam

Senangnya Pak Martin adalah Pak Martin sudah menginjak Papua sedangkan saya belum pernah sekalipun ke sana hehehe. Adalah pengalaman yang luar biasa, Pak Martin, diingat-ingat lagi, digali lagi, bisa jadi tulisan-tulisan petualangan yang seru untuk dibaca.

Tidak diperkenankan untuk menaruh link aktif atau promosi-promosi dagang. Sayapun akan menghapus komentar-komentar yang tidak 'nyambung' dengan postingan yang ditulis. No Spam, Please...!