Antara Paham Ajaran Katolik dan Munafik Beda-Beda Tipis

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?.
Antara Paham Ajaran Katolik dan Munafik Beda-Beda Tipis
Gambar ilustrasi, ibadah umat Katolik Katedral/Dok pribadi
Ini adalah curhat saya tentang Katolik dan keyakinanan yang saya yakini. Tulisan ini sangat tidak bermanfaat bagi pembaca karena ini hanyalah unek-unek.

Saya sadar saat menghadirkan postingan ini pasti menghadirkan beragam tanggapan, khususnya umat Katolik; karena berbicara soal agama manusia paling munafik sekalipun akan berada paling depan membela agamanya. Seolah~olah paling benar dan paling suci.

Suci parameter yang mereka yakini jika setiap hari ke gereja. Mengikuti ibadah lingkungan sudah pasti suci. Lantas orang tidak ke gerja atau kegiatan lingkungan satu atau dua kali karena berbagai kesibukan, selanjutnya barisan orang suci itu mulai mengadili.

Tingkah mereka tidak jauh beda dengan ahli taurat pada zaman Yesus.Sok tahu, sok menggurui, sok benar, sok suci.

Inilah keyakinan saya soal iman Katolik. Agama adalah komunitas religius, dimana setiap anggotanya saling menguatkan. Meneguhkan dan saling mendoakan. Itu yang saya tahu waktu mengenyam pendidikan di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Wamena Papua.

Saya tidak mau banyak bombastis kata jika bicara tentang iman saya dan apa yang saya lakukan buat Tuhan, setidaknya hanya Tuhan Yesus yang tahu. Biarlah orang~orang yang mengenal saya yang bicara soal keKatolikan saya.

Ketika Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik Universitas Cenderawasih. UKMK Uncen  ‘hadir’ siapa di balik layar?.

Biar orang~orang yang mengenal Martin Karakabulah yang menjawab, karena saya tidak terbiasa pamer diri.

Saat bertugas di pedalaman Fef Papua Barat, daerah itu mayoritas Katolik tetapi 80 persen apakah tersentuh yang disebut Katolik itu. Tanya sendiri pada orang orang Fef Papua Barat (tetapnya umat Katolik Kampung Wayo).

Tahun 2011~2013 saya dan beberapa teman-teman mencoba memberi warna pada sesuatu yang disebut Katolik di tempat itu.

Puji Tuhan nafas Katolik perlahan-lahan hadir dan menjadi nadi iman umat di sana.

Di sini (Fef Papua Barat) kami tidak terbiasa pamer diri apalagi saling menyalahkan. Karena kami tahu bicara soal iman Katolik adalah bicara soal realitas. Bicara soal merangkul dan menguatkan dengan kasih kristus.

BICARA soal saling mendukung dan mendoakan.

Bukan bicara benar atau salah.

Bukan juga saya ketua lingkungan engkau umat biasa.

BUKAN ITU!, KAMI BICARA KASIH KRISTUS YANG DITERAPKAN DALAM KEHIDUPAN NYATA.

Indah sekali kala itu. Iman umat Tumbuh setiap hari. Perkembangan gereja Puji Tuhan selalu diberkati.

Ada damai dan suka cita yang luar biasa. Kalau tidak ke gereja dan tidak sempat bertemu adik adik OMK rasanya ada yang kurang. Itu waktu saya di Papua.

***

Akhir tahun 2013 saya hijrah ke Jakarta, status PNS saya tinggalkan. Demikian dengan pelayanan saya bersama para sahabat di sana.  

Saya coba memberi warna pada kehidupan menggereja di lingkungan Santo Petrus Paroki FX Zaverius Tanjung Priok Jakarta Utara.

Ya saya harus lakukan itu pertama karena saya katolik. Tugas saya adalah diutus dan melayani. Kedua harus diakui bahwa saya bertemu dengan istripun karena iman katolik yang melekat pada diri anak kampung yang bernama Martin Karakabu ini. Jadi sudah seharusnya empati itu ditularkan dalam tindakan.

Harus saya katakan menjadi katolik di Jakarta itu sulit. Bukan karena medan yang sulit. Karena di Papua kami harus melayani umat di daerah pedalaman dengan berjalan kaki bisa sampai dua tiga hari. Jadi soal itu tidak masalah. 

Apakah karena saudara~saudari Muslim?.

Soal ini pun tidak karena saya sudah terbiasa bekerja dengan bang Muhamad Fadil pembina ikatan mahasiawa Muslim Papua. Komunitas ini pun ada di Jakarta dan kami bersinergi dengan baik. Namanya komunitas Cinta NKRI tanpa isu sara.

Lantas masalahnya apa?

Masalahnya adalah umat Katolik itu sendiri yang merasa dirinya paling suci, paling benar dan paling tahu.
***
Ada banyak contoh kasus yang saya alami. Tetapi untuk apa berkisah. Sama saja dengan membuka aib sendiri. Namun baik juga sedikit kisah ini kubagikan barangkali bisa menjadi permenungan kita bersama (baca:umat katolik).

Pada suatu peristiwa ibadah lingkungan St Petrus FX Tanjung Priok Jakarta Utara. Saya diminta memimpin doa makan oleh tuan rumah. 


Sayapun berdoa, tiba-tiba saya diteriakin oleh seorang umat lingkungan yang merasa dirinya paling benar, paling suci dan paling kudus dan apostolik.

"Ehh stop salah tu doanya”

Itu terjadi di tengah-tengah doa. Umat lagi khusuk. Lantas saya pun mulai diajarin seperti anak TK. Setelah itu saya diminta lanjutkan doa. Maka saya katakan amin. Tanda salib dan selesai.
***
Peristiwa itu dan kejadian lain membuat saya agak menarik diri dari kegiatan lingkungan dan gereja Katolik St Fransikus Tanjung Priok.

Isupun beredar

1.    Martin karakabu pindah agama.....Ampun seram amat pernyataan orang-orang suci ini.

2.    Guru kok seperti itu...adu luar biasa sekali umat Katolik ini dalam mengadili orang lain.

Seolah- olah dirinya paling benar, paling suci hanya karena setiap hari berdoa rosario. 

1.    Untuk apa berdoa...?, Jika kelakuan seperti itu.
2.    Untuk apa ke gereja..?, jika hukum kasih tidak kau pahami.

Iman tanpa perbuatan adalah mati hai ahli taurat....

Apakah sekarang saya masih katolik?
Tidak perlu kau tahu yang penting semangat saya Katolik.

Kenapa tidak ke gereja?
Memangnya saya ke gereja harus kasih pengumuman di grup whatsaap lingkungan gitu?; Seperti yang kalian lakukan saat pulang gereja atau sehabis ibadah dishere di status sosial.

Apa faedahnya?, tanyaku pada nurani tengil manusia-manusia macam ini.

Pamer kalau ahli taurat ke gereja?.

Itu kalian.

Saya adalah saya. . .

Saya ke gereja, saya ibadah biar hanya Tuhan yang tahu,

Biar Tuhan yang mengukur, biar Tuhan yang mengadili saya.

Satu yang pasti semua yang saya dapatkan hingga hari ini, semua karena kasih dan kebaikan Tugan Yesus. Terutama nafas hidup yang diterima dengan cuma-cuma.

Hai sobat.

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?. Matius  7:3.

Menurut saya Gereja Katolik akan berkembang jika:

1.    Umat tidak munafik.

2.    Lakukan bukan karena ingin dipuji tetapi karena cintamu pada Yesus dan Bunda Maria.

3.    Komunitas gereja seharusnya menjadi tempat iman umat dikuatkan dan diteguhkan; bukan malah membuat iman umat semakin jauh dari Tuhan.

4.    Kalau dirimu suci tunjukan dalam perbuatan bukan hanya pandai bicara di atas mimbar.

5.    Jika saudaramu salah tegurlah dia dalam Kasih Kristus...
Saya tulis karena manusia dalam gereja tidak paham yang disebut persaudaraan sejati dalam kasih. Lantas menurutmu saya masih Katolik atau sudah jadi ateis???

10 Responses to "Antara Paham Ajaran Katolik dan Munafik Beda-Beda Tipis"

  1. Tulisan yang luar biasa tentang iman, tentang kepercayaan, tentang keteguhan. Damai selalu, Pak Martin.

    BalasHapus
  2. Amin Ine, terima kasih atas kunjungannya. Tentang iman selalu menghadirkan intrinsik dan banyak ragam, semoga saya, ine dan semua kita teguh dalam iman pengharapan dan kasih, Salam hangat Ine...

    BalasHapus
  3. Hem,, ada dua sisi sebenarnya bagi yang update status tentang keimanannya..

    Pertama memang niat ngajak supaya bareng2 dalam kebaikan
    kedua memang niatnya untuk sok alim saja dan pamer.
    Be positif saja

    BalasHapus
  4. Kalau yang pertama saya sependapat Mas Idris, kita seiya dan sekata, tetapi kalau yang kedua, ehmmm. mungkinkah saya seorang hakim ah entahlah, ... setuju postif saja, saya coba... ini hebat, terima kasih ya mas... baris kata yang pendek positif saja namun bagi saya memberi peneguhan yang luar biasa kagum sekali...

    BalasHapus
  5. Kesalahan satu orang, tidak boleh menjadi rujukan. Setiap komunitas memang punya tradisi dan aturan yang berbeda-beda.
    Tapi jika dirasa sudah tidak cocok dihati, memang lebih baik menarik diri.
    Dan tetap harus menjaga atau menjalin silaturahmi. Beda pendapat dan beda pendangan jadi hal lumrah kalau dikota.

    BalasHapus
  6. Mas bumi salut, saya suka komentar ini, menjaga silaturahmi ini menarik sekali,, Nuhun mas...

    BalasHapus
  7. Eh ini Pak Martin, sy panggil Kakak saja lah ya. Sy kira siapa ada mampir, "Kaka Vila".
    Kak, ini sy mau tanya doa apakah yang sampai diselak seperti itu, tidak boleh lah doa diselak seperti itu, bisa dibicarakan setelah doa untuk sharing. Sy jadi bertanya-tanya doa apakah itu? Dan punya latar belakang apa ybs itu?

    Memang di kebanyakan umat kita (Katolik) ada saja yang begitu ditiap lingkungan, selalu ada, tidak ada yang lurus bener, karena saya sih percaya itu memang diadakan untuk memberi warna dalam kehidupan menggereja kita, bagaimana kita menanggapi kerikil-krikil dalam kehidupan menggereja kita. Saya pernah alamai ketika jadi misdinar, selalu ada yang paling benar itu umum. Bahwa di lingkungan yang lebih besar seperti bernegara, orang seperti itu ada, itulah krikil-krikil dunia yang justru membuat kita lebih dewasa.

    Oh ya, berkenankah menjawab pertanyaan sy tadi, bwt bahan olah pikir. Begitu heran sy dg penyelakan ketika doa.

    BalasHapus
  8. eh pak Christ hanya doa makan biasa. Bersyukur pada Tuhan karena berkat yang tersedia dan semoga makan tersebut bisa menjadi kekuatan jasmani maupun rohani, kurang lebih seperti itu.

    Si farisi ini maunya addi tambah tiga kali salam maria dan satu kali bapak kami, karena saya tidak tambahkan maka menurut beliau itu salah. Seperti itu pak Christ

    BalasHapus
  9. typo: bukan addi tetapi ditambah

    BalasHapus

Anda Sopan Saya pun Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel