Inekata, Kavila Menjawab


Postingan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan dari dua teman blogger; pada tulisan sebelumnya yang berjudul Kiai Mustofa Bisri, pemikirannya patut dijadikan renungan bersama saat UN 2019.

Ine Tuteh dan Kang Nata, saya jadikan satu menjadi Inekata.

Jadi Inekata bukanlah nama orang Jepang melainkan plesetan yang saya buat dari Ine Tuteh dan Kang Nata.

Selanjutnya kavila masih sama, yakni bentuk pendek dari Kaka Vila (nama blog ini).

Jadi jelas bahwa Inekata adalah dua teman blogger yang bertanya, sedangkan kavila adalah plesetan dari nama blog ini, yang harus menjawab pertanyaan tersebut.

Mengapa tidak dijawab via kolom komentar blog?

Kavila menjawab:

Pertanyaan dua sahabat itu, saya ‘nilai’ tidak bisa dijawab via kolom komentar karena jawabannya butuh beberapa penjelasan dan contoh kongkrit.

Kita mulai sesi tanya jawabnya ya.

Ine Tuteh:

Pak Guru, apakah pelajaran di daerah beda dengan di kota besar?

Kavila Menjawab:

Sebenaranya pelajarannya sama ine karena silabusnya sama. Dalam silabus itu terdapat tujuan pendidikan nasional yang harus dicapai oleh setiap guru bidang studi di seluruh Indonesia.

Misalnya kurikulum 2013, pelajaran-pelajaran yang diujikan secara nasional, seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan satu mata pelajaran jurusan.

Misalnya jurusan IPA memilih fisika, atau jurusan IPS memilih Geografi.

Hanya satu!

Silabusnya dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan, diberikan pada kepala dinas pendidikan setempat. Dari dinas pendidikan setempat disalurkan ke suku dinasnya masing-masing.

Lihat gambar berikut!
Inekata, Kavila Menjawab oleh Martin Karakabu
Silabus yang dibuat oleh dinas itu, poin-poin pencapainnya bersifaat umum ine.
Contoh dalam pelajaran Bahasa Indonesia kurikulum 2013.
1.     Pembelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 berbasis teks.

2.     Siswa diarahkan dalam kegiatan belajar dan mengajar sampai pada ranah mencipta.

3.     Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah diarahkan pada perkembangan teknologi terkini sehingga setelah lulus siswa-siswi siap memasuki kehidupan nyata.

4.     Penilaian sikap dan kegiatan pramuka menjadi bagian penting dari penentuan kelulusan siswa.

Ine, empat hal itu dari Menteri Pendidikan; yang bekerja sama dengan Balai Bahasa Nasional.

Selanjutnya sampai di Suku Dinas (SUDIN) maka ketua-ketua MGMP dari setiap suku dinas yang ada (dulu disebut rayon) diundang untuk memberikan sosialisasi terkait 4 poin di atas.

Setelah sosialisasi maka tugas pengurus MGMP dari setiap suku dinas harus menyampaikan itu pada setiap guru di sekolah-sekolah.
Kalau saya di Jakarta Pusat I, kami punya grup whatsaap, jadi segala informasi apapun ada di situ.
Terkait pertanyaan ine soal beda pelajaran di kota besar dan di daerah, bisa jadi di sini letaknya.

Contoh kasus:

1.     Guru tersebut ikut MGMP atau tidak?
2.     Guru tersebut dalam pengajarannya sesuai dengan 4 poin di atas atau tidak?.
3.     Terakhir guru terlalu idealisme.

Saya coba jelaskan satu-satu.

Guru bidang studi dan MGMP

Sangat penting untuk ikut MGMP, apalagi guru yang mengajar kelas tamatan, kalau sampai tidak ikut MGMP maka jelas yang bersangkutan tidak tahu perkembangan dalam dunia pendidikan yang berkaitan UN dan USBN.

Sudah tahulah ine, negara kita ini kan setiap ganti presiden, ganti juga menteri pendidikan, kurikulumnyapun ikut diganti. (yang pusing guru di sekolah)

Nah, kalau gurunya tidak ikut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), apakah bisa tahu informasi tersebut?

Mengajar Sesuai dengan Intruksi


Intruksinya apa?

Ya empat poin tadi yang harus diterjemahkan oleh guru dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Kalau ine lihat beberapa kali saya posting tulisan anak-anak. Itulah terjemahan saya dari poin kedua, siswa-siswi belajar sampai pada ranah mencipata.

Mengapa teks pak guru?

Karena pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 berbasis teks.

Kalau ine baca beberapa postingan saya pada blog yang dikopi paste tanpa ampun itu, tentang blog dan youtube. Itu merupakan terjemahan saya dari poin nomor tiga. Pembelajaran berbasis teknologi.

Pak guru kenapa blog dan youtube?

Karena Bahasa Indonesia itu ada 4 aspek yang harus dikuasi.
1.     Keterampilan berbicara,
2.     Keterampilan menulis,
3.     Keterampilan membaca,
4.     Keterampilan menyimak,

Melalui blog siswa dan saya belajar menulis, sebelum menulis kami harus membaca.

Kalau Youtube?

Saya pakai untuk materi debat, diskusi, musikalisasi puisi, atau drama.

Kalau saya pakai tabe recorder takut ditertawain anak anak ine.

Apa relevansinya kedua media itu dengan masa depan mereka?,

atau bahasa orang dinas, “mempersiapkan peserta didik untuk siap memasuki kehidupan nyata”.

Orang Indonesia kan pikirnya, kerja harus PNS?, itu urusan mereka.
Saya lakukan adalah mempersiapkan anak jika tidak lulus PNS atau belum daftar PNS; siswa tersebut bisa ‘hidup’ dengan menulis.
1.     Jadi wartan kompas mungkin.
2.     Kirim tulisan opini ke warta kota untuk dibayar, bisa…
3.     Jadi blogger (itu sebuah solusi alternatif kalau gagal jadi PNS).
4.     Jadi youtuber, kenapa tidak? Mereka anak zaman now.

Kira-kira itu terjemahan saya dari ‘perintah tugas’ mendidik anak bangsa.

Kalau gurunya tidak mengikuti perkembangan yang ada, bisa saja guru tersebut mengajari materi yang sudah jadul.

Contoh

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada materi tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur itu ada dalam novel, teks drama, dan cerpen.

Dulu (UN KTSP) soal tentang apa itu novel, bagaimana membuat novel atau cerpen masih ada.

Sekarang kurikulum k 13 mengajari teknik seperti itu tidak ‘laku’ untuk kelas tamatan, karena yang ditanya dalam UN dan USBN adalah unsur yang membangun bukan konten yang dibuat.

Kalau kelas regulasi 1 dan 2 boleh karena proses pemahaman konsep (teori). Tetapi tidak untuk kelas tamatan.

Tanya: pak Martin tahu dari mana?

Jawab: Dari MGMP

Tanya lagi: MGMP darimana?

Jawab: Suku Dinas .. Selanjutnya lihat bagan sebelumnya. 

Kesimpulan

Jadi kalau guru tidak ikut MGMP, bisa saja beliau-beliau itu tidak tahu perkembangan yang ada, karena sekali lagi saya katakana, negara kita tercinta ini masih labil, setiap ganti menteri pendidikan ganti pula kurikulumnya.

Semantara guru di lapanganlah yang harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak mereka lakukan pada siswa dan orang tua murid.

Soal ini nanti saya ulas pada postingan yang berbeda. Termasuk guru idealisme karena saya sudah mengantuk dan mau tidur ine.

Tetapi inti dari pertanyaan ine adalah, sama antara daerah dan pusat; yang membedakan adalah bagaiman guru bidang studi menerapkannya di depan kelas.

Kuncinya satu saja ine.

IKUT MUSYAWARAH GURU BIDANG STUDI (MGMP) DI DAERAH MASING-MASING

Ine, saya pikir cukup ya, karena ini materi di blog saya yang lain, kalau saya tulis semua nanti jadi konten duplikat (sambil tertawa).

Sekarang pertanyaan Kang Nata.

Kang Nata:

Mas Martin menjewantahkan itu apa?, mohon penjelasan lebih lanjut mas.

Punten kang, ini menguji saya ataukah? (sambil tertawa sendiri).

Kemudian mikir?

“Ah ga ini serus dan saya harus menjelaskannya secara serius pula”

Baiklah kang saya akan jelaskan.


Begini Kang!

Abad 21 eranya teknologi, hal yang baik ialah teknologi bisa membantu perkembangan manusia. Namun di sisi yang lain hadirnya teknologi dari barat membuat anak-anak Indonesia pun nyaris jadi kebarat-baratan.

Contoh:

Warganet muncul untuk menggantikan kata netizen. Sebelumnya kata itu adalah plesetan dari kata citizen di internet. Namun belum digunakan secara familiar, termasuk beberapa kata berikut ini.
1.     Gawai untuk gadjet,
2.     Komedi tunggal untuk stand up komedi,
3.     Pranala untuk link,

Termasuk beberapa kosa kata baru yang lain.

Sama halnya dengan kata menjewantahkan sebutan untuk menterjemahkan atau melaksanakan (tataran makna pertama dan kedua yang saya pakai). Selanjutnya, untuk memastikan kebenaran pernyataan saya akang bisa cek di sini. 

Demikian jawaban saya atas pertanyaan dari Ine Tuteh dan Kang Nata via komentar blog.

Semoga ulasan sederhana ini bias menjadi pertanggung jawaban moral saya terhadap karya intlektual yang dihadirkan di ruang publik.

Mohon maaf jika jawaban saya tidak memuaskan sahabat berdua, silahkan tinggalkan komentar agar saya memperbaharui kembali apa yang kurang; sehingga layak dibaca oleh sidang pembaca yang saya hormati.

Salam damai @

Jakarta, 29 Desember 2018
Martin Karakabu

4 Responses to "Inekata, Kavila Menjawab"

  1. Panjang banget ulasannya. Jadi ini gabungan 2 nama blogger Tuteh dan Nata. Awalnya aku bingung juga dgn kata ini. Ki┼Ľain apa, ternyata habungan nama. Ha ha.

    BalasHapus
  2. Hahahahahah.... ( tepuk tangan ) prokkk..prokkkk.prok..... emejing dech tuisan Mas Kali ini, serius....loh. :) saya ngak nyangka bakal ditulis sekreatif dan se-informatif seperti ini, hahahahh.... brilian pokoke... :)

    Saya bukan memuji, kaliamat yang saya tanyakan tsb tidak familiar di telinga saya, jadi saya binggung, bukan meng'test... ( emang anak murid pakai di test; segala, hahaha ... ).

    Gaya penulisan Mas yang Informatif namun dikemas dengan gaya bahasa Sederhana dan Ringan,seperti akan membantu blog di di kerubutin banyak orang, hehehhe...

    Kalau bisa sich, ketika ada istilah Bahasa Orang Timur, mohon diberikan artinya juga, biar kita2 jadi banyak Pengetahuan...

    Inekata awalnya saya pikir bahasa Orang timur, ternyata,,,, gabungan nama saya dan si Mbak itu, hahahahahah.... kreatif...kreatif dan Inovatif.... Cap Jempol dech Mas.... :)

    BalasHapus
  3. Luar biasa bapak Guru Kavila menjelaskan 2 pertanyaan menjadi 1 artikel blog. Total football ini.

    BalasHapus
  4. Gabungan namanya seperti nama Orang Jepang. BENAR! Hahaha. Terima kasih Pak Guru jadi saya tahu bahwa ini ada pada MGMP di daerah masing-masing. Kembali pada sang guru diikutkan, mengikutkan diri, atau tidak. Terima kasih atas penjelasannya Pak Guru. Luar biasa hehehe.

    BalasHapus

Anda Sopan Saya Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

adnow

loading...