Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Sebuah Refleksi di Tahun Politik

Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Sebuah Refleksi di Tahun Politik
Imanuel Wanggai Persipura dan Hendro Siswanto Arema / sumber foto Indosport via alamat link
Di zaman penjajah, kita sebagai anak negeri disatukan dengan idealisme yang sama, yaitu mengusir penjajah dan berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Itu sudah dilakukan dan berhasil. Buktinya Indonesia sebagai suatu bangsa, berdiri gagah di singsana bumi pertiwi.

Apa tugas selanjutnya?

Mengisi kemerdekaan, kata bung Karna dan Hatta dalam film Indonesia pusaka.

“Selanjutnya biarlah generasi sesudah kitalah yang mengisi kemerdekaan ini, tugas kita sampai di sini”, bung Karno dalam cuplikan film Indonesia Pusaka.

Hari ini dan di sini, kita lihat di layar kaca;
1.   “eh kecobong loe,
2.   eh kampret loe”.

Bahkan pada tingkat yang menurut saya parah ialah,
1.   “eh Kafir loe,
2.   eh Cina loe,
3.   eh Komunis loe”, dan
4.   berbagai eh…ehh..dan eh yang lain.

Inikah yang disebut tugas kita mengisi kemerdekaan?.

Sepertinya menarik, menelaah kembali ucapan Mafud MD; negarawan dan tokoh Islam yang saya kagumi.

“Negara lain sudah sampai ke bulan, kita (Indonesia) masih mempersoalkan boleh atau tidak memberi ucapan selamat natal”, tetapi sudahlah saya tidak mau membahas itu, karena ada hal baik di negeri ini yang perlu dibahas.

Apa itu?

Sepak bola bung!

“ah sepak bola???” penuh tanya dan bingung.

 “Ya sepak bola!!!”, Melalui sepak bola kita jadi satu bangsa.

Sepak bola menyatukan kita semua

Masih ingat peristiwa berikut ini?

Indonesia Dikalahkan Malaysia saat Piala AFF 2018

Piala AFF U 19 tahun 2018 lalu, saat Indonesia dikalahkan Malaysia. Saya bangga walau Indonesia kalah. Bukan berarti saya mendukung tim lawan.

Letak kebanggaan saya ialah bersatunya seluruh anak negeri beropini soal tim lawan. Bukan berarti saya ikut menghujat.

Poinya ialah semua menjadi satu bangsa, Indonesia namanya.
1.   Tidak ada Jawa, tidak ada Papua, semua Indonesia.
2.   Tidak ada Islam tidak ada Kristen, semua Indonesia.
3.   Tidak ada Persib Bandung tidak ada Persija Jakarta, semua PSSI.
4.   Tidak ada kecebong tidak ada kampret, semua anak bangsa.

Sesuatu yang Luar biasa.

Nasionalisme sangat nampak saat itu. Membanggakan sekali sebagai sebuah bangsa.

Kita bisa seperti itu

Dalam Sepak Bola

Mari kita mulai belajar dari timur Indonesia. Melalui sebuah club sepak bola bernama Persipura Jayapura; melalui seorang pemain bernama Imanuel Wanggai.

Pencinta bola Indonesia mungkin masih ingat peristiwa Imanuel Wanggai (Persipura Jayapura) dan Hendro Siswanto (Pemain Arema Malang).

Edisi 22 September 2018 lalu di stadion Mandala Papua. Tabrakan keras terjadi pada laga itu, antara Imanuel Wanggai dan Hendro Siswanto. Imanuel wanggai dan Hendro Siswanto mengalami cedera serius.

Wanggai 8 jahitan di pelipis matanya, sedangkan Hendro Siswanto tidak sadarkan diri dan harus dirawat di Rumah Sakit Bayangkara di Jayapura Papua.

Apa yang dilakukan Wanggai?

Bangun dalam kedaaan sempoyongan dan mengejar Hendro Siswanto, bukan untuk berkelahi, melainkan meminta maaf.

Peristiwa itu mengundang decak kagum sesama insan sepak bola.
Berita lengkapnya bisa baca di sini.
Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Sebuah Refleksi di Tahun Politik
https://www.indosport.com/sepakbola/20180922/sikap-sportif-wanggai-untuk-hendro-usai-lidah-tertelan
Andaikan sportifitas dan saling menghargai bisa dilakukan, maka tidak akan ada bentrokan antara suporter, pemain dengan pemain, atau pemain dengan wasit.
Kita bisa menjadi lebih baik di tahun 2019 jika sportifitas dan respek menjadi prinsip dasar dalam berkompotisi.
Ingat pemilu hanyalah momen 5 tahun sekali tetapi persaudaraan dan persahabatan abadi selamanya.
Semoga pemilu 2019 tidak ada kecobong vs kampret karena Indonesia adalah kita; bukan tanggung jawab seorang Kiai Mustofa Bisri seorang diri. Salam damai @

Kita Indonesia, Kita Bineka. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh

Jakarta, 28 Desember 2018

Martin Karakabu

9 Responses to "Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Sebuah Refleksi di Tahun Politik"

  1. Saya suka gaya abang yg menyisipkan kritik sosial dalam postingan2. Keren bang.

    Kembali ke sepakbola, memang diakui hanya olahraga yg belum terkontaminasi politik.
    Sayangnya skrg malah isu suap yg mengemuka.

    BalasHapus
  2. Hehehehe bang day, di atas hanya asal omong saja e kwkwk.
    Bola dan politik itu sangat menarik sekali. Ada satu isu menarik soal Boas Salosa dan nasionalismenya yang 'digoreng' sepertinya oleh beberapa oknum tetapi saya tidak bisa sebut ee. trada data, semantara yang saya tahu masih bisa dikatakan isu, takut dibilang hoax kwkwkwk. terima kasih sudah berkunjung bang, salam damai

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang. Hati2 sekarang bicara. bisa terjerat UU ITE.

      btw, soal "tahukah kamu" tutorialnya di sini :
      https://www.candrajunie.com/2018/01/belajar-desain-blog-membuat-kotak-baca.html?m=0

      Hapus
  3. menarik sekali ulasanya....jangan pandang sebelah mata kata "kecobong dan kampret" ....lhoooo kenapa bisa ?

    di Tahun politik ini kata "kecobong dan kampret" ikut berperan dalam meramaikan sosial media....iya kan ?

    BalasHapus
  4. Akan tetapi kata "kecobong dan kampret" ini selalu dilontarkan oleh mereka para pengguna-pengguna binal sosial media....

    Apapun itu.... kasus-kasus bola yang menderai dunia bola PSSI Indonesia, itulah warna asli dunia pesepak bola Indonesia kita ini.


    Jadi mau apa ? jika kita memandang buruk atau positif, toh pandangan itu tertuju ke dunia sepak bola Indonesia kita sendiri...iya kan ?

    BalasHapus
  5. Mas tombol Balas komenternya nggak fungsi ya...

    BalasHapus
  6. Hahahaha saya setuju, Pak Guru :D membaca ini saya jadi ingat banyak hal dari dunia persepakbolaan di Ende. Apapun boleh diperdebatkan tapi kalau sepak bola semua bersatu dan sportif. Sportifitas yang begini yang patut kita tiru.

    BalasHapus
  7. pertanyaan tiap tahun
    pak ustad boleh ngga kita ngucapin selamat natal
    pakustad= OH bla bla bla bla bla bla
    aku agak gimana gitu kalo liat yg begini

    xixiixixixi

    iyah bola emnag mempersatuakn bangsa itu udah pasti yah

    BalasHapus
  8. Diluar kata ' kecebong dan kampret ', aku kagum dengan jiwa pemaaf dari mas, eh# kalau di Irian sebutan mas itu apa, ya ? ..., Imanuel Wanggai.

    Jiwa dan sikapnya patut diacungi jempol dan jadi contoh buat semua orang.

    BalasHapus

Anda Sopan Saya Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

adnow

loading...