Kiai Mustofa Bisri Pemikirannya Patut Dijadikan Renungan Bersama Saat UN dan USBN 2019

Kiai Mustofa Bisri Pemikirannya Patut Dijadikan Renungan Bersama Saat UN dan USBN 2019
Kiai Mustofa Bisri/foto Tribun News
Saya seorang Nasrani yang terlampau kagum dengan beliau. Sosoknya yang bersahaja itu idealitas yang terpatri.

Tidak bisa dibantah lagi jika pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin ini adalah nasionalis dan agamis yang dijadikan teladan. Tidak terkecuali;

Kristenkah,

Milenialkah.

Beliau adalah guru kita bersama.

Letak keteladannya ada pada pemikiran beliau yang sederhana namun penuh makna bagi bangsa.

“Nana saya itu sekolah di kampung, jadi tidak paham yang disebut Hak Asasi Manusia (HAM) dan lain sebagainya”, kata beliau saat di wawancarai oleh Najwa Shiab; dalam gelar wicara di salah satu stasiun TV swasta yang dipandu oleh putri Quraish Shiab itu.
“Kiai saya di kampung dulu pernah bilang, Indonesia itu rumahmu sendiri; yang harus dijaga dan dilindungi”, ujar beliau dengan penuh ketenangan.

“Mana mungkin engkau biarkan rumahmu dihancurin oleh orang lain”,  jelasnya lebih lanjut kepada Najwa Shiab.

Pemikiran beliau di atas, entah mengapa membuat saya begitu kagum pada sosok ini.
Sederhana dan apa adanya. Namun pesannya sangat jelas. Ibu pertiwi adalah rumah kita semua; yang harus dijaga dan dirawat.

Sekedar Menghayal

Di ruang jedah saat liburan sekolah saya merenung, “duh indahnya negeri ini jika dunia pendidikan mengadopsi pemikiran beliau dalam bentuk kurikulum”. Tetapi sayangnya P4 sudah tidak ada lagi dalam kurikulum.
Diganti pula dengan pramuka. Padahal pramuka dari zaman saya SD di kampung juga sudah ada.

Sekarang ada lagi (karena kebijakan kurikulum 2013), itu berarti si pengampuh kebijakan sadar kalau sekolah itu tidak sekedar mengola pikir saja, tetapi hati dan budipun mesti jadi perhatian.

“Eh pak Martin, ente ini bagaimana si, kan dalam kurikulum K 13 itu ada yang disebut penilaian kongnitif, psikomotorik, dan afektif pak”,

“jadi bapak jangan seenaknya ngomong seperti itu, seoalah-olah tidak ada”

Anggap saja di atas tanggapan dari dia dan mereka yang ‘tersentili’ dengan ocehan tidak jelas ini.

Bapak dan ibu kontrol dong di lapangan, ITU HANYA TEORI.
Kenyataannya mah, yang penting lulus, habis bulan terima gaji.

Supaya lulus malah sekarang dipermudah, SEKOLAH YANG MENENTUKAN. Mantul dha (mantap betul dha).

“sekolah mana si yang berani mempermalukan dirinya sendiri karena anak didiknya tidak lulus?”

Mikir!!

Mau bicara gamblang ga punya data kongkrit takut dianggap hoax, jadi sudahlah, semoga ocehan ini, setidaknya bisa membuat UN dan USBN 2019 lebih berbobot.

Kualitas bukan kuantitas lulusan.

Apa Hubungan Ochan saya di Atas dengan Pemikiran Kiai Mustofa Bisri?

Jelas ada dong.

Bicara Indonesia sebagai bangsa berarti bicara generasi muda.

Siapa itu?

Ya mereka-mereka yang bulan Maret 2019 nanti ikut UN – USBN.
Bagaimana jadinya Republik ini kalau konsepnya, “sudah mas yang penting lulus”.
Menjaga Indonesia bukan hanya tugas seorang kiai Mustofa Bisri seorang, tetapi tugas kita bersama.

Terutama para guru di sekolah, karena guru tempatnya paling depan dalam menciptakan generasi yang tangguh dalam iman, unggul dalam prestasi, dan santun dalam budi pekerti.

Kiai Mustofa adalah pemikir, sekarang saatnya menjewantahkan pemikiran hebat itu dalam UN dan USBN 2019.

Apakah bisa?

Blogger Detunglikong menyuruh guru kampung yang bernama Martin Karakabu Mikir. Jadi saya tidak suruh bapak dan ibu mikir melainkan menyuruh si Martin untuk mikir. #janganlupangopi

Sumber foto:
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/04/26/ternyata-gus-mus-sewaktu-muda-jago-bulu-tangkis-melaju-ke-final-turnamen-tingkat-asia-afrika

8 Responses to "Kiai Mustofa Bisri Pemikirannya Patut Dijadikan Renungan Bersama Saat UN dan USBN 2019"

  1. Saya tidak tahu apa arti " menjewantahkan " ? Mas mohon dijelaskan ? Maklum saya pengetahuan saya Pas2an, hehehhe....

    Saya juga mengagumi beberapa Tokoh Agama Islam, Seperti DR.Zakir Naik.Pernah Nonton Video Youtube DR. Zakir Naik ? Coba dech di tonton, Mas. :)

    Selain itu saya juga mengemari Ceramah Ustad Adi Hidayat di Akhyar.TV, orangnya pinter sekali.

    BalasHapus
  2. Saya salut dengan idealisme bpk Guru Martin ut dunia pendidikan.
    Lanjutkan bang tetap semangat

    BalasHapus
  3. Pak Martin, saya miris melihat berita pada tahun-tahun lampau saat UN mulai diberlakukan, banyak anak sekolah yang pergi ke makam-makam untuk dapat berkat/wangsit supaya lulus UN. Bahkan yang di daerah protes karena katanya 'tidak sama' dengan yang sekolah di kota besar. Pertanya saya, sampai sekarang, adalah apakah pelajaran yang diajarkan beda misalnya kalau di Jakarta 1 + 1 = 3 di Ende 1 + 1 = 8? Sehinga anak sekolah sepertinya ketakutan menghadapi UN dan kemudian berkata: yang penting lulus. Saya hanya melihat dari sisi anak sekolahnya saja, sih, Pak Guru, karena guru telah berusaha (optimal) untuk mendidik tetapi tantangan pada masa sekarang ini adalah anak murid sudah mengenal dunia internet yang jauh lebih menarik sehingga kadang alpa bahwa mereka adalah pelajar yang harus lebih giat belajar dan berusaha apabila ingin lulus dengan nilai yang baik.

    BalasHapus
  4. Ya...ngopi sebelum berkomentar itu penting,

    Mengenahi sosok Kiyai Musthofa Bisri, prilaku dan pemikiran beliu patut di contoh dalam kehidupan sehari-hari ..betul itu..

    BalasHapus
  5. @Kang Nata: Sejauh ini saya masih menggeluti dan belajar dari pemikiran tokoh-tokoh hebat Muslim macam Qurais Shiab, Gusdur, Imam Besar Masjid Istikal, Bang Fadel ketua MUI Papua, dan sosok di atas Gus Mus. Rekomendasi Kang Nata di atas akan saya pelajari juga. Karena menarik sekali menyelami pemikiran tokoh-tokoh hebat seperti mereka.

    Terkait kata Menjewantahkan itu artinya melaksanakan (Kata kerja bentuk ketiga dalam KBBI Online) kang, lebih jelas soal ini nanti saya tulis aja Kang.

    @Ine Tuteh: Ine Tuteh saya harus jawab lewat postingan artikel, karena soal komentar ine ini ada beberapa hal yang harus dijawab, dan itu tidak bisa lewat komen karena cukup panjang Ine kwkwk.

    @Mas Asnaji: benar mas, kesahajaan beliau patut kita tiru, tidak peduli Muslim atau Nasrani, beliau adalah bapak bangsa karena pemikiran-pemikiran cerdasnya. Nuhun mas sudah hadiir, salam damai...

    BalasHapus
  6. Ups lupa, kwkwk @Bang Day, terima kasih banyak apresiasinya, semua yang terjadi karena cinta kwkwkkw...Bang dirimumu juga menampilkan hal beda, namun belum kuketahui saat ini, namun waktu pasti akan segera menjawabnya hehehe, salam damai dan terima kasih sudah hadir Bang...

    BalasHapus
  7. Sedikit melenceng dari sosok yang dibahas, Mustofa Bisri ..., aku mengagumi sosok alm. Gus Dur.
    Beliau sosok yang sangat menghormati kepercayaan agama orang lain dan selalu menciptakan kerukunan toleransi beragama.
    Itu patut diteladani mengingat sebenarnya masih minim toleransi yang terjadi di tengah masyarakat.

    Kalau sosok Mustofa Bisri ini aku belum mengenal betul, tapi disimak ucapan beliau di komentar diatas, patut diteladani juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan mas himawan, sosok alm. Gus Dur sangat patut diteladani. Kepimimpinan yang adem dan penuh toleransi. Gus Mus, Gus Gur, Emha Ainun Najib, dan Abi Quraish Shihab itu sosok yang berislam dengan ramah, tidak membenci yang berbeda. Melihat beliau2, saya masih optimis bahwa Indonesia masih penuh dengan kebaikan dan kedamaian:)) hehehe

      Hapus

Anda Sopan Saya Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

adnow

loading...