Natal Hanya Momen: Melihat Paha Mulus di Gereja

Natal hanyalah momen untuk melihat dan berbenah. Salah ulangi lagi, jatuh bangun lagi.Natal Hanya Momen: Melihat Paha Mulus di Gereja oleh Kaka Vila

Tulisan ini hanyalah refleksi pribadi, dari saya, oleh saya, dan untuk saya. Tujuannya hanya untuk memberi makna pada kata Natal itu sendiri.

Natal bukan urusan baju baru,

Kue natal,

atau pondok natal.

Itu hal yang lahiriah.

Kalau begitu boleh atau tidak disiapkan?

Jawabanya, baca lebih lanjut!

Penjelasannya ada di bagian bawah dari artikel ini.

Bagi orang awam seperti saya yang tidak pahami teologi Kristen, Natal hanyalah momen untuk melihat masa lalu.

1.   Sudah benarkah ini?
2.   Sudah baikkah itu?
3.   Menyakiti atau berkat yang kulakukan ‘kemarin’?
4.   Menebar kebencian di media sosialkah saya?;
5.   dan berbagai hal lain.  

Merenung dalam kesendirian, untuk melihat kedalaman diri, “berkat atau malapetaka yang kuhadirkan?”.

Berbenah untuk hidup baru di tahun yang baru itulah Natal yang sebenarnya menurut saya.

1.   Salahkah mempersiapkan kue natal?.
2.   Membeli baju baru?,
3.   Sibuk dengan kandang Natal?

Namanya peranyaan maka persiapan itu sah dan benar.

Sama dengan baju baru, tidak ada dalam Alkitab dikatakan Natal harus memakai baju baru.

Silahkan cek sendiri di Alkitab perjanjian lama atau perjanjian baru.
Hanya idealitaslah yang menjadi ukuranya.

Contoh:

Menemui tamu idealnya baju yang layak; sebagai indikator ‘sopan’ dalam budaya ketimuran.

Apalagi yang datang adalah Yesus Kristus Juruselamat dunia.

Jadi bukan baju baru yang utama tetapi pakian yang layak untuk menyambut tamu yang datang.

Layak di sini tidak harus baru.

1.   Percuma baju baru tetapi hati kotor.
2.   Percuma baju baru tetapi bajunya seperti kurang kain.

Pahanya kemana-mana…
BH nya kalau dicongkel sedikit seperti gunung kembar yang mengeluarkan abu vulkanik ala manusia zaman now.
Itu semua…….
1.   Hanya karena mode.
2.   Gengsi dan Kekinian.

Pertanyaannya adalah, “ente waras ke gereja dan menyambut Tubuh Kristus dengan busana seperti itu?

Yang penting hatinya pak, bukan bajunya.

Secara pribadi saya setuju dengan pernyataan di atas, tetapi baju yang bagaimana dulu?

1.   Kalau ke mall itu sah…
2.   Kalau ke kolam renag itu wajar…

Tetapi kalau ke gereja dengan busana yang memamerkan aurat apakah itu berkat?

Silahkan pikirkan sendiri….

Akhirnya saya ucapkan selamat Natal untuk saudara dan saudari semua yang merayakan Natal.

Mari jadikan momentum natal sebagai waktu terbaik untuk melihat masa lalu, kemudian yang kurang diperbaiki untuk masa depan yang lebih baik.
Bahasa rohaninya ialah ‘lahir baru’.

Kesimpulannya:

1.   Bagi pengikut Kristus. Natal ialah momen yang harus digunakan dengan sebaik mungkin untuk menjadi ‘manusia baru’ dalam Kristus.

Salah ulangi lagi, jatuh bangun lagi, tetapi jangan pernah berhenti untuk bertumbuh dalam Kristus Yesus saudara-saudariku.

2.   Tidak ada anjuran untuk memakai baju baru saat Natal. Tetapi lakukan yang layak dengan alat ukur sopan untuk menyambut Kristus Yesus yang datang.

Damai di bumi dan damai di Surga –KAKA VILA-

Selamat Natal untuk sahabat blogger dan pembaca yang merayakannya. 

Salam Damai dalam Karya

15 Responses to "Natal Hanya Momen: Melihat Paha Mulus di Gereja"

  1. Duh judulnya mantap nih. hehehe.

    Eniwei, selamat merayakan hari penuh sukacita dan kedamaian bang

    BalasHapus
  2. Betul apa yang telah di ulas, prinsip Kristiani maupun muslim, kurang lebihnya sama, .

    Bukan body yang dibidik, tetapi kebersihan hati yang di petik...

    Selamat Natal buat saudaraku Kakavila..

    Semoga keberkahan dan damai selalu menyertai Mas amin sekeluarga...

    BalasHapus
  3. Bang Day kwkwk, itu hanya trik kwkwk, semoga tidak memberi kesan 'menipu'. oh ya terima kasih banyak atas ucapannya Bang, salam sukses untuk abang dan keluarga... Salam damai satu dalam karya

    BalasHapus
  4. Mas Asnaji terima kasih sudah berkunjung, hehhee terima kasih banyak mas atas ucapannya, salam damai.

    ups soal postingan ini kwkwk, ia mas ibaratnya bohong bangat kalau kucing ga mau ikan asin, tetapi ini kan ke gereja bukan ke kolam renang kwkwk. maturnuhun mas uda sempatkan mampir. salam

    BalasHapus
  5. Hmmm sebenarnya pembahasannya berd tapi dibuat simpel dan mudah dipahami.

    Emang beda kalau pak guru yang nulis kikuk.

    Setuju mz, sudah benarkah saya? Benar kebencian kah saya? Bukan sudah benarkah anda? Artinya kita harus lebih tau kesalahan kita sendiri dari pada sibuk cari kesalahan orang lain.

    Toh benar dan salah itu pasti berbeda tergantung pribadinya masing-masing, yang penting berusaha sebaik mungkin untuk tidak melukai orang lain 😊

    Keren MZ 😊

    BalasHapus
  6. hehehe terima kasih mmbak Risna sudah hadir dan berbagi sudut pandang, kwkwk
    Ini hanya opini saja mbak, sekaligus update blog kwkwk, sekali lagi terima kasih sudah mampir mbak, salam damai

    BalasHapus
  7. selamat hari natal,

    semoga dapat paha mulus dan gunung vulkani, tapi gak tsunami nya jga wkwkwk

    BalasHapus
  8. Hahaha selamat datang paha mulus kwkwk ups ko paha si hehheeh

    BalasHapus
  9. aku pas di bagian " BH nya kalau dicongkel sedikit seperti gunung kembar yang mengeluarkan abu vulkanik ala manusia zaman now."
    agak Ngeri ngeri sedap bacanya wkwkkwkwk.
    BTW selamat Natal dan tahun baru broo martin
    salam kenal Dari Barat INdonesia xixixixiixixixi

    BalasHapus
  10. Terima kasih bro Dhio salam kenal orang dari timur yang merapat ke Barat Indonesia kwkwk. ehhh kwkwk itu ungkapan yang hadir karena realitas bro dhio kwkwk. terima kasih banyak sudah berkunjung bro, salam blogger

    BalasHapus
  11. Juru slamat manusia... Ada datang di dunia... *menyanyi

    Kaka Guru, reflektif tulisannya. Ke rumah Tuhan hendaknya kita memakai yang baik-baik. Eniwei... Selamat Natal eh Kaka Guru, semoga damai selalu dan menjadi lebih baik untuk selanjutnya, apapun itu.

    Merry Christmas too you :)))

    BalasHapus
  12. Selamat merayakan Natal untuk Pak Martin dan keluarga tercinta. Hehehe. Bajunya tidak perlu baru ya Pak Martin, yang penting sopan untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus. I love this post.

    BalasHapus
  13. Selamat hari Natal buat mas Martin dan keluarga. Berkah dalem, mas.

    Maaf ya terlambat mengucapkan di komentar.

    Membaca artikel diatas, sangat benar adanya jika sesama manusia hanya saling tuding dan mencela kesalahan2 orang lain tak akan ada habisnya.
    Yang utama itu ..., diri kita sendiri.
    Instropeksi diri jauh lebih baik.

    Di bagian 'gunung meletus' aku ikut deg-degan bacanya ..., khawatir tiba-tiba ada tsunami di belakangku ..
    Wwkkkwwwkk :D
    Halusinasi tingkat tinggi ModeOn# :D

    BalasHapus
  14. @Ade Ajeng: Diks Danke banyak sudah hadir, yups maturnuhun atas apresiasi dan dukungannya ade, salam hangat dan doa terbaik juga buat ade dan kegiatannya, semoga selalu sukses.

    @Ine Tuteh: Hehehe terima kasih banyak atas ucapannya Ine, termasuk menguatkan opini saya kwkwk, soalnya iman saya tergoya kalau ke Gereja kwkwk...

    @Mas Himawan: Terima kasih mas, selamat natal dan berkah dalem juga buat mas Him dan keluarga. Soal melihat diri itu benar mas, itu refleksi saya pribadi juga hehheehe, terakhir soal gunung kembar kwkwk, awas meleutus euuu... kwkkw

    BalasHapus

Anda Sopan Saya Segan, Silahkan Berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

adnow

loading...