Entri yang Diunggulkan

Mertuaku The Best

Berantas Trafficking: Cerita di Tempat Prostitusi

Berantas Trafficking: Cerita di Tempat Prostitusi oleh Martin Karakabu admin blog kaka vila, catatan kisah di Sentani Kiri, tanjung elmo, jayapura Papua
Gambar ilustrasi/pixaboy
Tanjung Elmo atau Sentani Kiri atau Turki (Turun Kiri), demikian sebutan warga Jayapura untuk salah satu tempat prostitusi di Jayapura, Papua.

Sore itu terlihat sepi pengunjung. Di salah satu wisma aroma parfum kelas  murahan terasa  menyengat indra pencium awak JUBI. Seorang gadis muda tampak sedang mengisap sebatang rokok di sudut barak.

Dandananya terlihat menor. Bedak tebal, bibir dipoles lipstik, mengenakan celana super mini dan baju You Can See atau biasa disebut baju bertali satu atau kutang. Dari kejauhan, tampak seseorang lelaki sedang asyik bercanda mesra dengan salah satu gadis. Sesaat mereka saling beradu padang, namun tak lama kemudian keduanya saling meremas tangan dan  berjalan masuk menuju sebuah kamar. 

Baca Juga: Wamena Titipan Tuhan

Entahalah, apa yang dilakukan kedua insan itu.
Pandangan awak JUBI tetap tertuju pada gadis bekulit putih di sudut sebuah wisma.  Tangannya tak henti memijat digit Handphone. Sesakali ia tersenyum sambil memandang layar Handpone.

JUBI mencoba menyambangi gadis itu. Ia menyapa dan menyambut JUBI dengan ramah. Komunikasi dua arah pun terjalin.

Awalnya, perempuan muda ini menyangka JUBI salah satu ’tamu’ spesialnya sore itu, namun setelah awak JUBI menjelaskan misi menghampiri dia, wajahnya terlihat merengut dan nyaris tak meladeni sapaan awak JUBI. Namun setelah awak JUBI menjelaskan yang membuat dia bisa yakin, gadis berambut  sebahu itu pun mau membuka suara, tetapi dengan catatan, nama dan fotonya tidak dikorankan.

Sebut saja namanya Mawar. Ia adalah salah satu penghuni sekaligus Pekerja Seks Komersial (PSK) di Tanjung Elmo..

Mawar mengaku, sejak kecil dia tidak pernah bermimpi tinggal di Tanah Papua, apa lagi menjadi PSK di kota teluk ini.

Gadis kelahiran Pineleng, Manado, Sulawesi Utara (Sulut) itu mulai bercerita. Pada awal 2008 silam, keluarganya di Pineleng  didatangi dua pria yang sedang  mencari karyawan untuk bekerja pada sebuah   toko di Jakarta. Karena diiming-imingi gaji percobaan 2 juta rupiah per bulan, Mawar dan sanak saudaranya pun merelakan diri untuk dibawa kedua broker tersebut.

Awalnya, keluarga Mawar ragu-ragu dengan omongan kedua laki-laki tersebut, tetapi karena tergoda gaji besar, ia pun  rela berpisah dengan keluarganya.

“Siapa tidak senang dengan uang sebesar itu, apa lagi kehidupan ekonomi tidak lebih dari cukup. Saya berpikir waktu itu, tawaran ini harus diterima, siapa tahu bisa menyokong kehidupan keluarga,” ujar Mawar. ”Saat itu tidak ada pemikiran untuk curiga, karena sebelum berangkat orangtua saya dikasih uang sekitar 2 juta rupiah, katanya ini bukan gaji, tetapi persen dari bos yang menyuruh mereka mencari karyawan,” lanjutnya.

Semangatnya yang bergelora untuk melihat Jakarta membuat dia mengiyakan tawaran busuk itu. Lalu ia bersama dua temannya diberangkatkan ke Jakarta, sebagaimana yang sampaikan kedua laki-laki itu.

Sayangnya, bukan Jakarta yang diharapakan, malah turun di pelabuhan laut kota Jayapura.
Sejak saat itu Mawar dan rekannya ternyata ditipu. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah diperdagangkan (Trafficking) untuk kepentingan komersil.   Naasnya lagi, mereka dipekerjakan sebagai pelayan laki-laki hidung belang.

”Waktu itu, sampai di sini kami dipekerjakan menjadi pelayan bar lalu dipekerjakan menjadi PSK di wisma Flamboyan hingga kini,” kisahnya.

Mawar dan teman-temannya tercebak dalam mafia trafficking. Menurut Koordinator Divisi Pengembangan Kapasitas Mitra dari Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Papua, Joe Luis, mengatakan, banyak hal sehingga diperdagangkan. 

Pertama,  Kurangnya Kesadaran.  Banyak orang yang bermigrasi untuk mencari kerja baik di Indonesia ataupun di luar negeri tidak mengetahui adanya bahaya trafiking dan tidak mengetahui cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak mereka dalam pekerjaan yang disewenang-wenangkan atau pekerjaan yang mirip perbudakan.

Kedua kemiskinan. Kemiskinan telah memaksa banyak keluarga untuk merencakanan strategi penopang kehidupan mereka termasuk bermigrasi untuk bekerja dan bekerja karena jeratan hutang, yaitu pekerjaan yang dilakukan seseorang guna membayar hutang atau pinjaman.

Ketiga keinginan cepat kaya: Keinginan untuk memiliki materi dan standar hidup yang lebih tinggi memicu terjadinya migrasi dan membuat orang-orang yang bermigrasi rentan terhadap trafiking.

Keempat  peran anak dalam keluarga. Kepatuhan terhadap orang tua dan kewajiban untuk membantu keluarga membuat anak-anak rentan terhadap trafficking. Buruh/pekerja anak, anak bermigrasi untuk bekerja, dan buruh anak karena jeratan hutang dianggap sebagai strategi-strategi keuangan keluarga yang dapat diterima untuk dapat menopang kehidupan keuangan keluarga.

Dan, sejarah Pekerjaan karena jeratan hutang. Praktek menyewakan tenaga anggota keluarga untuk melunasi pinjaman merupakan strategi penopang kehidupan keluarga yang dapat diterima oleh masyarakat. Orang yang ditempatkan sebagai buruh karena jeratan hutang khususnya, rentan terhadap kondisi-kondisi yang sewenang-wenang dan kondisi yang mirip dengan perbudakan.

“Saya pikir kasus trafficking yang dialami oleh sejumlah korban  di Papua disebabkan karena kurangnya didikan dalam keluarga selain dipicu oleh masalah ekonomi,” ujarnya belum lama ini.

Berdasarkan data pengaduan kasus kekerasan yang masuk ke Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Papua (P2TPA)  Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2006 sebanyak 15 kasus. Pada tahun 2007 ada 46 kasus dan tahun 2008 sebanyak 43 kasus.Maret lalu, Polda Sulut memulangkan sekitar 17 perempuan asal Sulut yang diduga menjadi korban kasus penjualan manusia (trafficking) di Papua. Dalam kasus ini kepolisian menetapkan lima tersangka.

Kasus ini seperti mata rantai mafia. Ada aktor terselubung yang “bermain” demi kepentingan bisnis. Martabat sesama manusia dikorbankan demi ketamakan dan egoisme. Demi uang, bahkan harkat sesama manusia dikorbankan.

Menurut pakar Hukum Pidana dan Kriminolog Universitas Cendrawasih Jayapura, Basir Rohrohmana, untuk mencegah kasus traffciking di Papua, perlu ada sebuah lembaga karantina. “Perlu ada lembaga karantina sebagai filter. Dengan ini setiap penumpang kapal yang masuk Papua disaring sehingga bisa diketahui dengan jelas tujuannya. Seperti lembaga bea cukai untuk barang, begitu juga dengan manusia,” kata Basir belum lama ini.

Trafficking masuk tindakan pidana, yakni melanggar UU nomor 21 tahun 2007 tentang perdagangan orang. ”Menurut teori kejahatan, masyarakat semakin berkembang, semakin tinggi kejahatan. Trafficking merupakan salah satu sisi kecil darinya. 

Trafficking masuk kategori kejahatan atas kebebasan orang, ini pelanggaran HAM,” tegas Basir.  Hal senada dikatakan ketua dewan kehormatan Majelis Rakyat Papua (MRP), N.A Maidepa. Kata dia, hukum memang harus diterapkan secara benar. “Pemerintah yang tahu, kami tanggapi tetapi tidak menyelesaikan persoalan. Kalau ada yang terbukti bersalah ya dihukum saja, jangan NATO (No Act Talk Only) saja,” ujar Maidepa. (JUBI Martin Karakabu)


Catatan:


  1. Ini tulisan lawas, pernah saya muat di kompasiana dengan judul Berantas Trafficking.
  2. Tulisan ini sengaja saya posting ulang di blog ini untuk mengingat perjalananku dalam mengola kata menjadi kalimat. Ini tulisan pertama saya di dunia tulis menulis. Jadi saya tidak peduli soal SEO dan lain-lain yang penting perjalanan itu terdokumentasikan.
  3. Tulisan ini dibuat saat menjadi wartawan magang di di Tabloid JUBI, portal berita nomor satu di tanah Papua.

0 Response to "Berantas Trafficking: Cerita di Tempat Prostitusi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel