Kamis, 14 Maret 2019

Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu ataukah Memang Tidak Mau Tahu?

Posted by Kaka Vila on Kamis, 14 Maret 2019

Jakarta ibu kota negara, katanya sebagai barometernya Indonesia; jika Jakarta sebagai barmoternya Indonesia maka tapa laku manusianya pun seharusnyanya menjadi parameter manusia ibu kota yang moderen dan rasional. 
Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu ataukah Memang Tidak Mau Tahu?
Gambar ilustrasi, sumber merdeka.com 
Namun tidak demikian dengan pengalaman pengguna jalan yang sering saya jumpai.

Berikut ini pengalaman lawas yang saya  alami di Jakarta.  sebenarnya hal seperti ini sering saya alami di Jakarta, namun baru kali ini sempat membagikannya kepada pembaca sekalian. 

Ruas jalan baru sunter, Jakarta utara. Sering saya lewati menuju tempat kerja. Setiap pagi cukup ramai dengan anak sekolah, pedagang, maupun pekerja lain yang bepergian menuju tempat kerja masing-masing. Termasuk hiruk pikuk kendaraan bermotor yang melawan arah sesukanya.

Situasi seperti ini maka kewaspdaan tingkat tinggi menjadi keharusan bagi siapapun.

Jumat, 16 November 2017.  Sekitar pukul 06.00 WIB situasi yang tidak saya harapkan terjadi.

Sebuah motor matic yang dikendari oleh ibu - ibu keluar dari arah gang menuju jalan utama (jalan yang saya lalu saat itu). 

Beberapa menit kemudian, bunyi prakkkkk.

Keseimbangan saya jadi tidak stabil dan akhirnya jatuh 'memeluk aspal'. 

Apa yang terjadi?.

Seorang ibu yang terburu buru mengantar anaknya ke sekolah menabrak motor saya.

“Woii bang, hati hati dong...!” kata ibu itu setelah menabrak motor saya. Sambil meringis kesakitan, saya coba bangun dan bertanya kepada si ibu yang pemberani itu,
“Salah saya apa bu?”.
Tidak ada jawaban, si ibu itu kemudian berlalu. 

“Ah sudalah, kalau berurusan sama ibu-ibu tidak akan selesai urusan seperti ini, yang ada saya emosi”, pikirku saat itu, toh motor saya baik-baik saja.
Sampai di sini saya berpikir, apakah suatu kesalahan bisa menjadi benar hanya karena suara yang paling besar?
sobat pembaca mungkin juga pernah mengalami seperti saya atau pernah melakukan seperti ibu yang saya ceritakan di atas?
Jika itu dianggap wajar dengan dalil welcome to Jakarta, maka silakan memupuk kebobrokan yang demikian untuk anda sendiri tetapi jangan biarkan orang lain terluka karena ulahmu.

Mari berpikir!

Pertama, nyawa tidak pernah bisa dibeli dengan sejumlah uang karena nyawa bukan seperti motor yang bisa dikreditkan. Jadi unsur kehati-hatian dari pengendara harus dimiliki. 

Kedua, sabar adalah sebuah kata yang harus dipraktikan oleh setiap pengendara di kota-kota besar yang tingkat kemacetan terus bertambah setiap harinya. 

Ketiga, berani mengendari kendaraan bermotor harus tahu aturan lalu lintas. 
Jangan sengaja tidak mau tahu yang penting saya bisa lewat, persetan dengan orang lain.  

Previous
« Prev Post

4 komentar:

  1. Ini permasalahan nasional yang dihadapi oleh banyak orang; sein kanan belok kiri, itu fakta. Nyawa, bagi kita di jalan raya, adalah taruhan yang paling nyata, Pak Guru. Biarpun kitanya berhati-hati, pengendara lain belum tentu berhati-hati, itu yang bikin kacau ... hiks :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sudah ine. penyebabnya apa saya sendiripun tidak paham. tapi asimsi saya hal yang salah tetapi terus menerus dilakukan akhirnya dianggap benar dengan dalil sudah biasa, toh tidak ada tindakan tegas. ah sudahlah kwk. itulah potret zaman kita hanya bisa berdoa agar selamat sampai tujuan.. bukankah seperti itu ine hehe..

      Hapus
  2. Hahaha, itulah the power of mak-mak ...
    Tidak ada kata salah bagi 'mereka', entahlah karena kemampuan multitaskingnya atau bagaimana.

    Untuk urusan lalu lintas saya memang heran sih.
    Dimana-mana sama, tidak ibukota, kota biasa atau desa, karakternya semua sama.
    Jika dilihat dari aspek psikologi, mereka seperti itu akibat tekanan rumah tangga. Jadi mungkin kita harus lihat dari sisi lainnya.

    Bukan berarti harus dimaklumi, perlu ada penataran skala nasional yang WAJIB diikuti seluruh mak-mak di bumi nusantara ini untuk mentralisir tekanan psikis yang mereka terima dalam rumah tangga. Perlu peran bapak2 dalam menyukseskan program ini ...

    Pengalaman Kang Vila juga saya rasakan, dan hasil pemakluman saya, seperti yang saya tulis di atas, perlu penataran skala nasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia kaka moat sa juga bingung tetapi solusi yang ditawarkan sepertinya menarik dan patut dicoba karena masalah lalu lintas sepertinya sudah menjadi isu nasional.

      Wah kaka moat juga mengalaminya berarti ini masalah cukup serius ya.. hehe

      Hapus