Sabtu, 23 Maret 2019

Indonesia adalah Kita Bukan Dia atau Mereka (Catatan Lepas)

Posted by Kaka Vila on Sabtu, 23 Maret 2019

Indonesia adalah Kita Bukan Dia atau Mereka (Catatan Lepas)
Indonesia masih ada. ini adalah catatan yang bersifat permenungan.

Waktu saya tinggal di Papua saya sangat menikmati apa yang disebut toleransi. Bertetangga dengan teman - teman dari tanah Jawa membuat saya mengenal beragam karakter.

Karakter yang paling melekat adalah sikap toleransi yang dibina. Saat membangun Gereja teman-teman muslim berbondong membantu. Para ibu mengurus makanan, kaum bapa membantu teman-teman yang Nasrani.

Hal yang sama jika hari raya Idul Fitri, kami semua bergandeng tangan melancarkan perayaan itu.

Terlalu indah kehidupan beragama di sana.

Hal yang sama saya saksikan di Citangtu (Kuningan Jawa Barat), kerukunan beragama sangat terasa. Sebagai minoritas saya bangga melihat itu.

Demikian halnya dengan yang kusaksikan Masyarakat di Talahap Magelang. Masyarakat yang mendiami kaki Gunung Andong Salatiga itu sangat rukun.  Tentram sekali melihatnya.

Terakhir saya melihat Gereja Kristen Jawa, umat Katolik, dan saudara - saudari Muslim di Kulon Progo Yogja. Bagi mereka agama urusan pribadimu tetapi persaudaraan di atas segalanya. Kagum sekali.

Lantas dimulai dari Ahok jadi gubernur DKI yang namanya rukun entah kenapa saya merasa digoyang. Kafir dan pengelompokan mulai terjadi.

Sampai dengan pemilihan presiden 2019 mulai lagi pengkotakan atas nama agama terjadi. Ramainya pum di sosial media. Miris rasanya melihat itu karena itu bukan wajah Indonesia yang sebenarnya. Namun yang kusaksikan Rabu, 20 Maret 2019 di Jalan Gunung Sahari XI Jakarta Pusat sangat menentramkan hati.

Seorang ibu berjilbab (kelihatan seperti keturunan Arab), membantu dengan tulus oma Keturunan Cina menyeberangi Jalan. Bagi saya ini pemandangan yang menyejukan, sempat terpikir untuk memotret momen itu, tapi kuurungkan karena kerukunan beragama masih terjaga di akar rumput.

Kalau pun ada isu ini dan itu, bagi saya itu semua hanyalah kerjaan orang-orang yang tidak menginginkan Indonesia damai.

Di mana pun ibu berdua itu berada saat ini, saya masih percaya bahwa banyak orang baik di negeri ini yang sangat mencintai negaranya.

Kerukunan masih ada,
Toleransi masih ada,
Kebinekaan kita masih ada.

Indonesia adalah kita, bukan dia atau mereka. salam@
Baca juga:
  1. Kecebong dan Kampret Bisa Disatukan Lewat Sepak Bola: Refleksi di Tahun Politik.
  2. Kiai Mustofa Bisri Pemikirannya Patut Dijadikan Renungan Bersama


Newest
You are reading the newest post

6 komentar:

  1. Suka membaca artikel ini, inilah Indonesia yg sebenarnya, kami tidak terpecah, kami satu walaupun berbeda,...
    Setiap tahun saudara2 dari istri pun ngumpul di rumah kami merayakan Idul Fitri walaupun kami sekeluarga beragama Kristen.

    Pak Guru Martin, kolom komentarnya ganti ke blogger ya? Jadi gampang komennya nggak perlu nunggu loading

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia mas diqsus berat mas Aris. haha ini bukan artikel mas hanya catatan lepas saja eu. terima kasih sudah hadir mas Aris.

      Wah keluarga pancasilais, saya percaya tempat berteduh yang demokratis seperti rumahnya mas Aris menjadi penyemai bibit unggul berdemokrasi.

      Semoga terus dipupuk agar menjadi bibit unggul untuk negeri

      Hapus
  2. Betul itu gan, kita anak indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia, berbahasa satu bahasa indoneesia, merdeka ;)

    BalasHapus
  3. Kata teman, teman lama ditemukan via fb. diakrabkan oleh wa dan dipisahkan oleh pilpres

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btul Bang Day, teman, tetangga bahkan saudara bisa dipisahkan oleh pilpres

      Hapus
  4. Inilah indahnya Indonesia; indah karena perbedaannya yang menyatukan. Huehehe. Tapi betul juga komentar Bang Day di atas ... dipisahkan oleh pilpres :p semoga hanya sementara LOL! :D

    BalasHapus