Rabu, 20 Maret 2019

Mengenang Nulis. Id dan Ekskul Jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta

Posted by Kaka Vila on Rabu, 20 Maret 2019

Sobat seandainya kalian sempat membaca postingan ini jangan kaget dengan isinya.


Maksud saya seperti ini, judul di atas sepertinya mengandung pembahasan yang keren dan informatif (menurut saya ya), padahal isinya mah bukan, saya hanya mau menyimpan beberapa foto kenangan saat masih mengajar ekskul jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta.

Ya dulu saya mengajar di SMA Kanaan Jakarta, saya sempat dipercaya oleh pihak sekolah untuk membina ekskul jurnalistik.

Sebenarnya saya merasa tidak pantas, tetapi pimpinan berkata, “ah pak Martin bisa maka saya pun memulai mengajar dari kekurangan saya”.

Berikut ini beberapa foto kegiatan ekskul jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta.
Mengenang Nulis. Id dan Ekskul Jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta
Kalau ini majalah sekolah yang dikelola oleh anak-anak Jurnalistik. Setiap edisi saya pastikan untuk membagi siapa liput kegiatan apa, intruksinya saya sampaikan lewat ketua redaksi
Kalau ini kegiatan sekolah, jadi setiap kegiatan sekolah anak-anak Jurnalistik turun lapangan untuk meliput, benar-benar kayak wartawan saja hehehehe
Selain itu, kami pun harus mengurus Mading sekolah. Ini bagian dari persiapan membuat mading sekolah

Kalau ini foto saat saya selesai mengajar ekskul jurnalistik) dan diliput oleh tim nulis.id 

Tim Jurnalistik
Saya banyak belajar dari mereka. 
Jika engkau ingin tahu remaja dengan lebih baik, tidak perlu membaca buku psikologi remaja, cukup hadir dan terlibat bersama remaja, pahami bahasa mereka, mengerti cara mereka berpikir, dan lihatlah hasilnya mereka sangat kreatif. Mereka sopan tetapi dengan gaya yang berbeda. Pahami mereka maka engakau akan mendapatkan ruang untuk mendidik.

Yups berkarya dari keterbatasan, tidak sempurna memang, tetapi mendingan berkarya dan membimbing daripada tidak sama sekali. Salam literasi.

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. Saya setuju kalimat terakhir itu, Pak Guru: berkarya dari keterbatasan, tidak sempurna memang, tapi mendingan berkarya dan membimbing daripada tidak sama sekali. Mungkin karena kita dari daerah Timur ini memang sudah tertempa dengan segala keterbatasan, dan tetap berjuang dari keterbatasan itu, jadi untuk menghadapi hal serupa ... sudah terbiasa dan pasti bisa.

    BalasHapus